Hello there..
Hhhh.. baru saja saya memposting sebuah tulisan, ehhh... sudah muncul lagi sebuah posting baru. Maaf, bukan bermaksud untuk eksis di blog. Bagi yang sudah membaca blog saya dari awal (ada gitu?) mungkin anda akan merasa bingung dengan gaya dan isi tulisan saya yang mudah berubah. Sebenarnya, perubahan yang cepat itulah yang mencerminkan diri saya. Tapi saya kesal jika ada yang mengatakan bahwa saya yang mudah berubah dikatakan sebagai individu yang moody, labil, atau sebangsanya (sebenarnya ini bentuk ketidakpenerimaan diri), tapi saya lebih senang (tentu saja) jika dikatakan sebagai individu yang ekspresif. Ketika ada hal yang saya suka, akan saya tunjukkan ekspresi suka-cita dan ketika saya duka akan mengalirlah air mata saya, meski saya sadar bahwa hidup ini tidak hanya sepanjang daun kelor--bahwa hidup ini banyak rasa. Begitu pula ketika saya menuliskan sebuah posting di blog. Akan anda temukan ragam jalinan kata yang beratmosfir lawak hingga yang membuat anda menitihkan air mata (saya tidak bohong, ada yang meng-comment beberapa posting saya yang menyentuh dan membuat beberapa orang menangis).
Lalu apa hubungannya prakata ini dengan judul posting "Mr./Mrs. Normal... How to be them?" ? Kalau boleh jujur, sebenarnya tidak ada hubungannya. Saya hanya ingin menulis saja begitu. Karena ketika saya bingung ingin menulis apa, tulisan tentang kebingungan saya menjadi hal yang gampang untuk diungkapkan (saya harap anda tidak bingung membacanya). Saya hanya ingin memberikan gambaran terlebih dahulu bahwa akan ada bayak ketidakonsistenan gaya dan isi tulisan dalam beberapa posting saya. Tapi satu hal yang bisa anda percayai adalah bahwa gaya dan isi tulisan ini mencerimankan ekspresi rasa saya terhadap suatu ide, suatu gagasan, suatu pengalaman. Mr./Mrs. Normal...How to be them? merupakan ekspresi saya terhadap suatu hal (Oh, mungkin ini hubungannya).
Baiklah, mari kita mulai.
Untuk menceritakan judul posting ini, ada baiknya saya mengisahkan dulu asal-muasal bagaimana judul posting ini lahir. Ternyata, eh, ternyata, judul posting ini lahir ketika saya menyaksikan acara TV, yang rutin menyegarkan pikiran saya dengan karakter lucu, imajinatif, dan selalu gembira: Spongebob Squarepants. Rasanya di dunia ini, tidak ada yang tidak tahu makhluk kuning yang biasa ada di tempat cuci piring tapi malah terdampar di lautan ini. Dibalik kisah-kisah konyol yang ditampilkan, ternyata terdapat suatu makna atau hikmah yang bisa kita ambil dari spongebob, yakni meski merasa sedih, spongebob selalu tampil ceria. Makhluk kuning ini juga penuh dengan imanjinasi, keramahan, keluguan, pemegang amanat, integritas pekerjaan yang sangat tinggi, solidaritas dan hal-hal positif lainnya. Ketika sampai pada suatu episode "Not Normal", hal-hal yang menakjubkan dalam diri spongebob malah dipandang janggal, aneh, dan tidak normal di mata tetangganya, squidward (Bahkan untuk terhindar dari tetangganya yang abnormal itu, squidward rela untuk pindah kemanapun tempatnya asal tidak ada spongebob).
Kisah ini diawali ketika dipagi hari, squidward yang masih tertidur lelap, terpaksa harus bangun ketika mendengarkan kegaduhan dari luar. Melihat di pagi hari spongebob sudah bertingkah (dengan berlari-lari mengelilingi rumah nanasnya itu), squidward menghampirinya dan mengomelinya, "Berhentilah bertingkah tidak normal! " dan membuat spongebob kebingungan, "Aku tidak normal?". Squidward kembali kerumahnya dan mencoba untuk kembali menikmati tidurnya yang sempat terganggu, tapi spongebob sudah berada diatas tempat tidurnya dan bertanya, " Bagaimana caranya untuk menjadi normal? ". Mungkin squidward tidak memberikan jawaban dan malah mendendang spongebob keluar. Lalu spongebo mendapati video dengan judul "How to be normal?". Ketika vidoe itu dipasang, seorang pemandu acara berbicara dan seolah bertanya langsung kepada spongebob, " Apakah anda dibilang aneh? apakah... apakah.. apakah...bla bla bla..." dengan segera songebob menjawab, " ya! ya! ya! ". Lalu si pemandu acara langsung menampilkan panduan "Journey into normality".
Perjalanan menuju kenormalan
Untuk menjadi normal, (mohon maaf saya lupa bagaimana detailnya, tapi saya coba ingat dari gambar-gambar yang ditampilkan di film). Sekali lagi, untuk menjadi normal, anda akan berpakaian yang tersetrika licin, rambut tersisir rapih, dan berawajah bersih (hal-hal yang tidak dimiliki spongebob) dan jangan lupa untuk tersenyum selalu. Anda juga memiliki bentuk rumah yang bukan nanas, tapi sebagaimana rumah yang terkonsep secara normal. Mr. Normal, memiliki name tag dengan nama "Mr. Normal". Bersama dengan Mister-Mister normal lainnya, Mr. Normal akan bekerja secara normal, yakni bekerja dibalik meja, konstentrasi dengan data didepan komputer dan menyapa secara normal, "Hallo apa kabar?". Ketika waktu sudah menujukkan 'selesai untuk hari tugas hari ini', Mr. Normal akan memasukkan barang-barang ke dalam tasnya dan bersiap menuju rumah untuk pulang disaat matahari nyaris tenggelam. Setelah menyaksikan video itu, spongebob akhirnya paham bagaimana caranya menjadi normal.
Singkat cerita, spongebobpun bekerja di restoran krabby patty dengan cara yang 'normal'. Ketika pelanggan datang memesan, seperti biasa, spongebob memberikan krabby patty kepada squidward untuk diberikan ke pelanggan. Tapi setelah diberikan, jendela yang memisahkan kasir squidward dan ruang masak spongebob terlihat sepi dan squidward merasa ada yang janggal. Ketika masuk ke dalam ruang masak, squidward terkejut melihat spongebob duduk didepan komputer dan konsentrasi mengetik. Spongebob menjawab ekspresi squidward yang kebingungan dengan memperkenalkan dirinya sebagai Mr. Normal. Dibalik ketidakacuhan squidward, saat dirinya pulang dari krasty krab dengan sepedahnya, squidwardpun diam-diam bertanya, apa yang terjadi dengan spongebob dan terkajut begitu sampai di depan rumahnya, rumah spongebobpun berubah: tidak ada lagi nanas tapi rumah dengan beton dan atap selayaknya rumah. Spongebob yang baru pulang kerja dari krasty krab pun menyapa squidward dengan normal, "Hallo, apa kabar?" dan segera masuk ke dalam rumahnya yang tidak lagi nanas. Meski demikian, squidward menjadi lebih ramah kepada spongebob dibandingkan sebelumnya. Selagi istirahatpun, squidward dan spongebob saling menyapa secara normal: singkat, padat, dan kembali ke tugas masing-masing. Tugas-tugas dapat diselesaikan secara baik dan cepat, membuat Mr. Krab senang karena uang mengalir dengan deras. Mereka pun pulang kerja tepat waktu. Bahkan, lubang-lubang sponge yang ada dalam tubuh spongebobpun menjadi licin alias mulus rapih seperti orang normal. Yah, spongebob kan sudah menjadi normal. Bahkan ketika sahabatnya, Patrick, mengajaknya untuk bermain seperti biasa dengan memancing ubur-ubur, atau bahkan ketika patrick merubah tubuhnya dan meminta giliran spongebob untuk melakukannya, spongebob menolak dengan alasan "Aku sudah normal...., inilah pekerjaanku....". Spongebob yang biasanya 'ujuk-ujuk' sudah ada di dalam rumah squidward tanpa di undangpun, kini membunyikan bel untuk izin masuk. Spongebob dan squidward menghabiskan waktu dengan minum teh dan berbincang secara normal. Kemudian spongebob secara tiba-tiba mengomentari hidung squidward yang tidak normal karena terlalu besar dan bahwa squidward yang tidak bercelana adalah tidak normal. Akibatnya, Spongbob yang kebingungan (dia yakin sudah melakukan tugasnya dengan normal) malah ditendang keluar oleh squidward.
Sepertinya, spongebob membutuhkan saran untuk hal ini dan mendatangi patrick untuk bagaimana caranya menjadi 'diri sendiri'. Patrcik kemudian dengan senang hati memperkenalkan kembali bagaimana cara mereka bersenang-senang dulu, bahwa mereka tidak peduli bagaimana tanggapan orang ketika mereka bertingkah gila. Mereka membasahi kota dengan air dan berseluncur dengan bebas kemana air itu berhenti. Mereka menikmati setiap tikungan-tikungan dan berteriak gembira ketika adrenalin mereka naik saat terbang entah kemana yang membawa mereka tercemplung ke dalam kolam air yang besar.
Apa yang bisa diambil dari episode itu? banyak sekali hal, salah satunya bahwa sesuatu yang normal ternyata adalah sesuatu yang biasa yang dilakukan oleh orang banyak. Dan ketika menjadi beda orang akan menganggap kita aneh, janggal, dan tidak normal sebagaimana squidward yang 'normal' memandang aneh spongebob dengan tingkah, imajinasi, tawa yang 'tidak normal'. Tapi, ketika spongebob menerima kata-kata squidward untuk menjadi 'normal', disaat itulah sebenarnya spongebob menjadi 'tidak normal'. Disinilah saya juga mempelejari bahwa tidak normal adalah sesuatu yang bukan diri kita sesungguhnya.
Episode itu menyentil saya sebenarnya sebagai fresh graduate ingin kemana arah saya selanjutnya. Ingin menjadi 'normalkah?' atau 'tidak normal'? Kemudian, saya juga tersentil oleh ucapan Pandji Pragiwaksono di salah satu media cetak yang saya baca (Provoke, 2012), yang menyadarkan saya tentang pentingnya passion dalam setiap hal. Hal inilah yang saya butuhkan bahwa apapun bentuk 'pekerjaan' (saya lebih senang dengan menyebutkannya karya atau setidaknya kegiatan), harus ada passion disana. Dan untuk memperoleh passion itu, ternyata, ketika saya sudah memiliki pengalaman bahwa bekerja dengan rutinitas yang itu-itu saja, bekerja dibalik meja, minim ekspresi, bukanlah bidang saya, bukanlah diri saya, bukanlah passion saya, dan saya menjadi 'tidak normal' kalau beraktivitas seperti itu (saya pernah magang dibagian administrasi dengan rutintias ke kantor jam 8, pulang jam stengah 5 selama 3 bulan dan saya tidak nyaman). Saya butuh ruang gerak, saya butuh ekspresi karena saya tidak ingin bekerja tanpa merasa di sanalah passionnya dan hanya mencari duit saja. Akibatnya saya menjadi zombie: bangun, kerja, pulang, tidur, kerja lagi. Mereka yang seperti ini, akan sangat benci sekali kalau hari senin datang. Orang yang punya passion pasti tidak akan sabar bertemu dengan hari senin karena enggak sabar ingin kembali beraktivitas. Apapun pilihan saya, semoga saya tidak terdikte oleh omongan orang lain untuk menjadi normal di mata mereka. Apapun karya saya nantinya, semoga saya bisa hidup dan menghidupi orang lain darinya.
- Fin -