Senin, 29 April 2013

Aku ini sedang jengah

Baru kusadari bahwa perasaan tanpa kata-kata berarti tersesat.
Jantungku berdebar-debar bukan karena cinta tapi terlalu hampa sementara mataku nanar di balik kaca mata yang lebar. 
Di sekelilingku bingar dan aku terdampar di atas kursi putar.
Inginnya menari-nari tak kenal etika tapi superego mengganjal.

Gaduhku tertahan di sanubari. Cuma bisa berputar 45 derajat di atas kursi putar.... apa hebatnya? 
Ternyata duniaku hanya seluas pantat. 
Kenapa si binatang jalang pergi dari dunia terlalu cepat? 
Seenaknya berlarian sendiri di pantai, berteriak, dan pecahkan piring agar gaduh. 
Kenapa tidak di ajak serta aku ini? 
Biar ramai. 

Sudahlah, ku hanyutkan saja diriku ke dalam diriku. 
Yang tak mengerti, aku tak perduli. 
Jadi lebih baik yang di sana bertahan saja sedikit lagi. 
Sabar. 
Karena aku akan kembali.

[0]

Aku percaya dengan hal yang ada di depanku. Mulai sekarang dan seterusnya karena di belakangku selalu saja nol. Tak ada jalan lain selain terus melangkah ke depan. Tapi terkadang aku bimbang, apa aku berjalan ke arah yang benar?

Rabu, 24 April 2013

The Unforgetable is The First Love

20 Februari 2013.


Aku terduduk di tengah-tengah kerumunan. Mereka membicarakan sesuatu ketika pikiranku melayang entah kemana. Aku terhampit diantara dua teman laki-laki yang kutahu mereka adalah Randy dan Fikri. Mereka sedang tertawa bersama dengan teman-teman lainnya. Yang membuatku tidak percaya adalah aku berada di lingkungan itu bersama mereka. Sedang apa aku disana? Apakah aku sedang ditertawakan? batinku. Sungguh tidak masuk akal aku duduk bersama teman-teman populer. Mungkin itu yang aku pikirkan—ketika pikiranku melayang—saat Randy dengan ejekannya yang kutahu menyebalkan melemparkan perhatiannya padaku untuk mempermalukanku.
”Mut, katanya loe suka sama Fikri, ya?” tanya Randy tiba-tiba. Aku menoleh padanya cepat dan melihat mimik wajahnya, dengan kawat memenuhi giginya, menyeringai ke arahku. Dia mengejekku.
”Enggak! kata siapa?” elakku ketus. Tapi jawabanku justru membuat semua yang ada di sana, tak terkecuali Fikri yang sedang dibicarakan, semakin tertawa terbahak-bahak.
”Serius, Mut, suka sama gue?” pertanyaan itu terlontar. Fikri—yang tidak kumengerti justru duduk dibelakangku, yang badanku seakan terbungkus di antara kedua kakinya—bertanya dengan mata dan bibir mencibir. Ekspersi itu juga aku kenal. Ia sedang meladeni ejekan Randy. Dia turut mengejekku.
”Enggak, kok!” jawabku makin ketus dan judes. Ku alihkan kepalaku dengan kesal dan kudengar lagi teman-teman menertawaiku. Aku memaki dalam hati. Aku tidak suka!
Aku rasa saat itu waktu berjalan begitu cepat. Aku tidak tahu apa yang terjadi karena aku merasakan tubuh Fikri tertumpu pada punggungku yang membelakanginya. Aku terhenyak, terkejut ketika Fikri membisikan sesuatu ke telingaku, ”kita jadian, yuk!”
Kepalaku teralih lagi dengan cepat—secepat aku melihat tembakan anak panah yang melesat ke horizontal. Alih-alih terkejut dengan ajakannya, aku menunjukan ekspresi tidak masuk akal. Aku mulai berpikir kalau Fikri aneh. Aku jelas tahu bahwa Fikri tidak menyukaiku. Di lihat dari teman-teman wanitanya yang oke punya, aku jauh di bawah standar. Tapi tampaknya aku tidak punya kuasa. Setelah melihat senyumnya itu, yang berada di antara ejekan, dengusan, dan hinaan, aku malah menerimanya. Aku jadi pacarnya sekarang.
Kemudian waktu berjalan begitu cepat hingga aku tidak menyadari keadaan sudah berubah. Tidak ada Randy dengan kawat giginya. Tidak ada teman-temannya yang tertawa mengejekku. Yang ada hanya aku dan Fikri. Hanya aku dan dia.
Aku semakin tidak percaya ketika dengan terburu-buru aku masuk dari sebuah pintu, mengkhawatirkan hal yang menurutku sangat konyol. Aku takut Fikri marah karena janji temu sudah lewat dari batasnya. Bisa dibilang, ini adalah pertemuan pertama kami semenjak kami pacaran maka aku merasa Fikri akan marah kalau aku telat. Tapi selagi aku terburu-buru sembari memeriksa waktu, pikiranku melayang lagi entah kemana. Rasanya kakiku bergerak sendiri sementara otakku memikirkan kemustahilan.
Aku dan Fikri adalah teman—walau sebenarnya tidak demikian—sejak kami bertemu di taman kanak-kanak. Aku ingat saat itu, meski kanak-kanak, Fikri adalah pria kecil yang tampan. Kami masih kecil. Umurku baru 5 tahun tapi aku tahu arti suka. Aku suka Fikri. Semenjak itu aku selalu melihat Fikri dengan diam-diam. Bahkan sampai sekarang, diam-diam aku memiliki fotonya, yang berwajah mungil dan luka di hidung akibat kenakalan masa kecil. Foto itu diberikan oleh temanku, Iqa, yang ternyata mengetahui perasaanku terhadap Fikri. Ku selipkan foto pemberian saat SD itu di sebuah diari berwarna ungu dengan sampul keledai temannya Winnie the Pooh, kartun favoritku.
Diariku adalah perjalanan usiaku bersamaan dengan perasaanku terhadap fikri yang sama sekali tidak berubah. Ketika belum mampu menulis, aku hanya menjadikan diariku sebagai selipan untuk foto fikri. Ketika sudah mampu menulis, dengan tulisan acak kadul, kujadikan diariku tempat bernaung, sambil menatap fotonya dan menulis ketidaksanggupan, ketidakberdayaan mengungkap rasa cinta.
Satu taman kanak-kanak beranjak menjadi satu sekolah dasar. Aku dan fikri berada di satu gedung selama 6 tahun. Selama itu pula aku menjadi tahu dan sadar bahwa aku tidak berada di arah pandangnya. Fikri yang tampan lantas populer dan dikelilingi oleh teman-teman yang asik. Sementara aku, hanya seorang anak kurus, hitam, rambut tipis dengan jidat lebar yang duduk memojok tak terlihat. Aku ingat ketika puncak kelas, aku sekelas dengan Fikri. Bersama Randy, ia senang mengejekku. Aku tidak berpikir bahwa aku konyol untuk ditertawakan tapi ketidaksadaranku bahwa aku bukanlah siapa-siapa, yang mencoba membaur dengan anak populer, justru menjadi senjata makan tuan. Bahkan kedua sahabatku, Amel dan Amanda, yang berniat menghiburku, keprihatinan mereka malah menjadi bahan ejekan baru. Semenjak itu, Amel dan Amanda tidak lagi membantu karena mereka tahu semakin aku ditolong, semakin aku diejek oleh Randy dan Fikri. Itulah bentuk kepedulian Amel dan Amanda untukku.
Menjadi siswa kelas 6 SD yang tidak populer dan justru jadi populer karena di ejek sangat tidak menyenangkan. Ini jauh dari harapanku—harapan untuk dekat dengan Fikri. Bukan dengan cara seperti ini. Aku tidak ingin dekat dengan Fikri sebagai bahan ejekan. Akhirnya aku malah menjadi kesal setengah mati. Aku marah, terutama pada Fikri. Tapi aku tidak bisa mendendam. Tidak bisa aku membuang perasaan suka itu—sejak kami di taman kanak-kanak—semudah membuang bungkusan permen ke tempat sampah. Lagi-lagi, kupendam perasaan luka dan cinta itu di dalam hati. Lagi-lagi, diari unguku menjadi tempat bernaung.
Beranjak SMP, setelah satu taman kanak-kanak dan satu sekolah dasar, aku satu gedung lagi dengannya. Meski satu gedung, aku bersyukur tidak satu kelas dengan Fikri—tidak pernah sekalipun selama tiga tahun masa sekolah menengah pertama kami. Lagipula, perhatianku lebih teralih kepada hal yang lain. Fikri tidak lagi menjadi fokus utama. Kini aku menjadi mahir untuk menentukan prioritas. Aku belajar, berteman, ikut kegiatan ekstarakulikuler dan alhasil aku menjadi peringkat pertama dua kali berturut-turut ketika penutupan kelas. Aku tidak tahu bagaimana Fikri saat itu. Karena beda kelas aku jadi tidak tahu kabarnya. Yang aku tahu bahwa tulisan tangan Fikri bagus. Saat itu aku sedang membantu guru mengangkat tumpukan buku dari kelas sebelah dan melihat buku Fikri di tumpukkan pertama. Rasa penasaran muncul di benakku. Ingin ku lihat bagaimana rupanya. Kubuka sampul buku itu dan terkejut tak terkira. Baru pertama kali aku melihat tulisan anak laki-laki indah seperti kaligrafi. Keputusanku untuk tidak lagi peduli, mendadak luntur ketika melihat tulisanya. Ternyata, tetap saja, tidak mudah menghilangkan Fikri begitu saja.
Beranjak SMP ke SMA aku sama sekali tidak tahu kabarnya. Aku juga tidak mencari tahu. Aku semakin sadar bahwa sudah saatnya untuk melanjutkan hidup—itu artinya mencari ’laki-laki’ yang baru. Aku menuntut ilmu di luar kota sementara Fikri.... aku tidak tahu. Sekali lagi, aku tidak tahu kabarnya jadi aku tidak tahu dimana ia berada. Aku juga tidak peduli karena aku bahagia sekarang. Aku memiliki pacar, aku—katanya—populer, aku pintar, dan aku aktif berorganisasi. Sungguh, masa SMA adalah masa jayaku. Kututup ingatan tentang Fikri dengan suatu kenangan... kenangan yang tidak menyenangkan, yaitu ketika ia mengejekku bersama Randy saat kelas 6 SD. Itulah Fikri yang aku tahu. Itulah Fikri yang aku ingat. Itulah Fikri, cinta pertamaku.
Oleh karena itu, aku bingung, kenapa aku bisa berada disituasi di mana aku berlari mengejar waktu dan takut Fikri akan marah dipertemuan pertama kami selama jadian. Kakiku bergerak sendiri ketika memasuki sebuah pintu toko, yang kuingat adalah toko baju. Dan kulihat Fikri sedang memperhatikan jas hujan berwarna hijau dibalik etalase. Aku menatapnya datar ketika ia melihat ke arahku dan siap marah padaku. Alih-alih menghampirinya aku malah diam di tempat. Fikri menghampiriku dengan berdecak dan anehnya meminta handphoneku. Aku menatapnya heran dan curiga tapi tetap kuserahkan handphoneku padanya. Betapa terkejutnya aku ketika kuulurkan tanganku padanya dan ia menarik lenganku. Ia memelukku dan mencium atas kepalaku. Ia membisikkan sesuatu yang tidak bisa kutangkap. Jantungku berdebar-debar tapi dalam hati aku bertanya-tanya, benarkah ini Fikri? Fikri yang aku sukai dari usiaku 5 tahun, yang selama bertahun-tahun ia bahkan tidak tahu aku ada dan hanya bisa mengejekku ketika melihatku? Seharusnya aku merasa senang tapi perasaan heran dan tidak masuk akal lebih mendominasi sehingga aku tidak bisa menikmati pelukan Fikri.
Setelah Fikri tampaknya puas memelukku, ia melepasku dan bertumpu pada etalase sembari memainkan handphoneku. Ia tersenyum, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, seolah-olah dia bahagia saat berbincang denganku ketika aku justru malah menatapnya datar. Dan ketika itu... Fikri menghilang.
Fikri hilang bagai debu yang diterbangkan oleh angin. Aku tersentak dan mataku terbuka. Aku merasakan kepalaku pening luar biasa dan kusadari ternyata aku menggigil. Aku tidak berselimut diri sementara angin pagi berhembus bebas melalui jendela. Ku perhatikan jam menunjukkan pukul 6 pagi. Aku menghembuskan nafas berusaha menghilangkan rasa pening setelah Ibu menyuruhku untuk berwudhu. Aku beranjak dari kasur dan merasakan lantai sedingin es. Basuhan air wudhu menggiringku ke sajadah untuk shalat subuh. Ku sembah Tuhan Yang Maha Kuasa. Kuberikan salam sebagai penutup ibadahku. 
Sadar bahwa itu semua hanya bunga tidur, aku mensyujudkan diri, menumpukkan keningku yang lebar ke atas sajadah lagi untuk bersyukur.
Dalam gumaman aku berbisik. Mimpi ini telah menghadirkan seseorang yang diam-diam kuinginkan hadir lagi dalam bentuk apapun. Mimpi ini membuatku hangat sepanjang hari. Mimpi ini—kuputuskan untuk—menjadi ingatan terakhir tentang dia yang kutahu menyebalkan. Mimpiku kali ini adalah tentang Brahmantyo Fikri yang kutahu darinya hanyalah dua hal: nama panjangnya dan ulang tahunnya yang bertepatan pada malam natal. Mimpi ini tentang kasih tak sampai, tentang cinta pertama yang entah kapan akan terlupakan...

Sabtu, 09 Maret 2013

PAPANDAYAN: MOTHER NATURE & FRIENDSHIP

15 – 17 Februari 2013

Kami bersembilan, dua wanita dan sisanya pria, berencana menelusuri gunung yang kutahu tergeletak di wilayah Garut, Jawa Barat. Perjalanan yang kutempuh dari jam tujuh pagi untuk berkumpul di sekolah masa SMA tak melunturkan semangatku untuk mendaki. Di tambah lagi aku mendapatkan tenaga ketika melihat teman sekawan, yang kurindu, telah menanti.

Ready to climb, guys! ^ ^

Mereka sudah siap tempur, sementara aku siap untuk ’jalan-jalan’. Jins merah tua dan kemeja kotak-kotak tak pantas disebut sebagai kostum untuk mendaki gunung. Aku malu. Tapi semoga penampilanku tidak menghakimi pribadiku yang gemar menelusuri alam.

Sebuah mobil kapsul tua berwarna merah gelap akan menampung kami bersama barang bawaan. Terkejut juga memikirkannya, apakah muat? Tapi desakkan tubuh dan barang tak menyiksa kami, malah memberi suka. Saat itu aku duduk di bangku tengah, memaksa untuk menyempilkan pantatku yang kecil di antara ketiga pantat temanku yang besar. Untung saja tubuhku ramping (jika tidak ingin dibilang kurus).

 Kemudian pacuan pedal gas menghantar kami dengan cepat dan ganas, mengingat yang menyupir adalah temanku yang panasan. Tapi kami percaya karena tidak ada lagi yang sehandal dia untuk mengantar kami dengan cepat dan selamat pula. Posisi dudukku nyaris mendekati jendela sehingga aku tidak tahu rasanya duduk di tengah, dengan pandangan luas di depan sana. Pasalnya temanku, dan mungkin berzikir dalam hati, karena mampu melihat dengan jelas seberapa cepat supir kami menantang maut, hanya mampu memberikan cengir kuda.

Sudah mencapai kota Garut, kami menjemput tiga orang teman lagi. Kini bertambah kaum perempuan dua orang dan satu pria. Tidak banyak waktu, mengingat kondisi mobil sudah sumpek, kami memaksa berhempit lagi. Banyak yang jadi korban, salah satuya aku—duduk di tengah-tengah supir dan bangku sebelahnya, duduk di atas rem tangan, sementara (untungnya) pantatku yang kecil mampu nyempil di tengah jok. Tapi justru aku merasa senang. Mungkin karena euforia berpengalaman bersama teman sekawan.

Kami sedikit berintermezo selama perjalanan. Kami mengunjungi rumah teman kami untuk sekedar bersilaturahmi. Soalnya supir kami, yang sedari tadi kami sindir, dengan keputusan bersama, menemui teman wanita kami yang sedang digebetinya. Hanya sebentar, tak lebih dari 20 menit kurasa, kami pamit untuk melanjutkan petualangan. Teman wanita kami memberi restu, meski sebelumnya mengeluh untuk apa kami mengunjunginya.

Glad though crammed *LOL

Setelah itu ingatanku kabur karena suatu memoar memaksaku untuk menulis petualangan pertama kami yang kurasa tak terlupakan di episode ini. Kami sampai malam hari, tak mengetahui tepat kapan jamnya. Jalan yang kami susuri berlubang-lubang sementara mobil jenis kami tak sesuai dengan medannya. Meski temanku handal, disamping dinahkodahi oleh yang handal pula, jelas kami tidak boleh sembarangan mengambil jalan jika tidak ingin ban terperangkap. Tubuh kami bergoyang-goyang, terlempar ke sana kemari hingga suatu ketika nafas mobil kami sampai batasnya. Tercium aroma karet terbakar akibat ban mobil yang dipaksa memutar pada tanah yang amblas. Akhirnya kami terjebak. Semua turun dari mobil. Kaum pria berupaya mengangkat dua ban mobil yang terbenam di lumpur, sementara kaum wanita berdoa. Segala upaya kami tempuh mulai dari membuat jalan baru dari batu hingga mengangkat mobil dengan dongkrak yang ukurannya teramat kecil untuk mengangkat mobil kapsul kami. Akhirnya kami memikirkan kemungkinan terburuk. Terpaksalah kami akan menginap di mobil atau memasang tenda di tengah jalan gelap, jika mobil ini tak kunjung berjalan. Semoga tidak bertambah kisah ini dengan turunnya air hujan dan petir menyambar-nyambar.
Ouch! Trapped!

Selagi semangat belum padam, beberapa pendaki terlihat di ujung jalan yang gelap. Mereka memberi kode layaknya bersiul dan aku ingat, aku menyahut kode itu dengan gaya yang serupa. Tampak dari sekawanan kami yang sedang kesusahan sehingga para pendaki itu menawarkan bantuan. Ini adalah pelajaran pertamaku bahwa betapa ramah dan penolongnya mereka. Betapa kami saling menghormati dan menghargai satu sama lain ketika berpapasan. Mungkin telah sadar bahwa kami bukanlah apa-apa di alam dan tak sepantasnya menyombongkan diri. Berkat upaya pendaki itu, mobil kami akhirnya mampu lepas dari ikatan lumpur. Tak peduli seberapa kotor baju kami, kami senang luar biasa. Setelah berterimakasih ria, jalan yang telah menjebloskan kami itu, kami tutupi dengan bebatuan agar tak timbul korban kedua.

Mungkin kupikir agar tak membenani mobil yang kini mulai melaju di jalan ancur, para wanita diputuskan untuk menaiki mobil sementara beberapa teman-teman laki-laki mendaki sendirian ke atas. Kami yang di dalam berpamitan dan mengucapkan terimakasih sekali lagi kepada para pendaki yang menyingkirkan diri untuk mempersilahkan mobil kami lewat.
 Kini teman kami yang menyupir, dengan nahkodanya lebih hati-hati. Namun lebih ganas pula menginjak gasnya. Karena wanita adalah kaum lemah, kami hanya bisa menjerit-jerit ria ketika mobil menghempas kami ke sana-kemari. Aku salah satunya tapi aku ingat aku lebih menutup mata kala itu.

Akhirnya kami melihat sebuah potral tanpa penjaga. Dua orang teman laki-laki kami yang lebih dulu sampai membuka portal untuk kami. Cahaya mobil memberikan penerangan padaku dan melihat sejumlah warung yang masih hidup. Mobil kami terpakir dan kuingat tak butuh waktu lama bagi kami untuk meminta pesanan hangat ke warung. Ibu warung yang masih muda dengan seorang anak bernama Dila menyambut kami. Saat itu sudah tengah malam dan kami putuskan untuk menginap di warung si ibu warung—yang sebelumnya telah memberi tahu tidak diizinkan mendaki setelah jam lima sore akibat kabut—sebelum mendaki besok. Mau tak mau kami bermalam dan mau tak mau kami merepotkan si ibu warung yang terpaksa tidak tidur untuk memenuhi berbagai kebutuhan kami yang kelaparan dan kedinginan.

Puncak dingin datang pukul dua atau tiga pagi semantara saat tengah malam aku sudah mengigil. Setelah memberanikan diri untuk berwudhu dan shalat, aku bersama teman-teman yang lain membuat lingkaran di dipan belakang. Dengan bermodalkan satu lilin yang berharap mampu menghangatkan kami, kami mulai berkisah. Cerita kami sok pintar dan sok bijak tapi berdiskusi membuat pengetahuanku meningkat. Kemudian cerita kami mulai melantur. Satu teman kami sepertinya tak mampu membendung keresahannya sehingga selama berjam-jam kami sabar mendengarnya. Kami sanggup dan kami peduli. Kami prihatin dan semoga curhat tengah malamnya itu mampu meringkankan beban dipundaknya.

Malam kian terasa larut dan dingin. Satu persatu temanku tewas dan memutuskan untuk tidur. Kami mengatur posisi. Ditengah kelelapan malam, aku dan teman wanitaku yang belum mengantuk berbincang lebih jauh. Kami curhat. Selayaknya wanita, meski berbisik, tetap saja suara kami nyaring. Akhirnya sampai tiba waktunya mendaki, kami berdua tidak tidur sama sekali.

Kami mulai mempesiapkan diri. Mobil terparkir dengan apik bersama mobil pengunjung yang lain. Sebelumnya, kami bergaya dulu sebelum mendaki. Setelahnya satu persatu dari kami mulai melangkah. Taburan batu-batu dan kerikil menyambut jalan kami. Kami pun disuguhi pemandangan indah dengan tebing tinggi menjulang sehabis terkikis hujan atau mungkin longsor hebat... atau mungkin eksploitasi habis-habisan.

Langit luas terpampang di atas kami dengan aroma hijau pegunungan. Kami berfoto ria, khususnya kami para wanita yang kegirangan. Tentu kami memiliki seksi dokumentasi tapi kami belum puas jika kamera pribadi tidak menangkap momen ini. Kami melanjutkan langkah dan disambut oleh gumpalan asap yang pahit mencapai tenggorokkan. Asap belerang menggerumuni kami. Tapi tenang, kami siap tempur. Kami menutup hidung kami dengan sapu tangan, yang sayangnya tak kubawa sehingga terpaksa aku meminjam. Sekali lagi, kami ingin mengabadikan asap itu di foto-foto kami.

Perjalanan kami mulai naik dan inilah yang namanya mendaki. Jalan yang kami ambil adalah jalan pintas agar cepat sampai. Bumi tak landai dan penuh dengan batu-batu besar. Jika tidak hati-hati kami bisa terpeleset dan menggelinding ke bawah. Beberapa dari kami pemula sehingga yang mahir mengkhawatirkan nasib kami. Kami banyak istirahat dan makin banyak juga capainya. Akhirnya kami mencapai puncak bebatuan. Beberapa teman yang sudah sampai menunggu kami sembari istirahat. Pemandu yang kebetulan teman kami pula, mengatakan jalan didepan sudah landai dan menyuruh kami untuk bergegas. Kami berdiri mengumpulkan tenaga dan dengan nafas tersisa berjalan melangkah lagi.
We are so small in nature

Aku merasa seperti Alice in Wonderland. Alam yang kami masuki berbeda dari sebelumnya. Kami berada di hutan mati sekarang. Kawah putih mematikan tumbuh-tumbuhan sehingga batang dan ranting pohon yang kering datang menyambut kami. Pohon-pohon itu mati, kaku, hitam tapi indah secara bersamaan. Sekali lagi, kami ingin mengabadikan pemandangan kawah putih dengan pohon mati itu di memory foto kami.

keep smile :)

Kami berjalan lagi menelusuri batu landai. Terputus-putus, aku berjalan bersama dengan seorang teman. Dia menjelaskan padaku tentang bunga Adelwise. Seketika di kepalaku tergambar bunga Dandelion yang tentunya jelas salah. Bunga Adelwise adalah bunga abadi, yang tumbuh hanya di satu tempat. Jika kita memiliki bunga Adelwise, itu bukti bahwa kita telah mendaki ke puncak tertinggi dari gunung. Tapi tentu, sudah menjadi kode etik untuk tidak mengambil apapun dari pegunungan (Iya ’kan teman-teman?). Bunga Adelwise tidak bisa mati. Kalaupun layu bunga itu hanya kering dengan bentuk sebagaimana ia mekar. Bunga yang cantik dan tegar.

Setelah melewati taman Adelwise, kami akhirnya sampai ke tanah perkemahan. Hanya saja aku dan beberapa temanku sial karena melewati rawa-rawa sehingga terpaksa kami mengorbankan celana dan sepatu kami dengan lumpur. Kami tidak tahu kalau ada jalan memutar tanpa harus mencebur diri ke rawa. Kami tidak sendiri di tanah perkemahan. Telah ada beberapa dari para pendaki yang telah memasang tenda. Lapangan terbuka lebar, tapi kami tidak memilih di sana. Tenda kami terpasang di antara semak-semak dan pohon-pohon. Itu siasat kami agar terhindar dari angin kencang, dan pohon-pohon akan membantu kami menyerap air jika turun hujan lebat.

Para pria memasang tenda dan para wanita memasak. Makanan pembuka kami tiba di tanah berkemah adalah mie dan nasi. Hanya seadanya tapi kami merasa cukup. Setelahnya kami istirahat. Aku tidak ingat apa-apa. Karena aku tidak tidur sama sekali, tubuhku terasa letih dan aku tertidur di dalam tenda. Aku dan temanku terbangun satu jam kemudian tapi tubuh kami merasa bugar. Kami terbangun karena hujan lebat menggoyang-goyangkan tenda kami. Kami ingin membantu ketika melihat teman laki-laki sedang berupaya mempertahankan tenda. Tapi kami dilarang keluar, takut bantuan kami malah merepotkan.

Tidak ada yang bisa kami lakukan sepanjang hari akibat turun hujan dan kabut. Kami hanya berdiam di tenda, memasang api unggun, berusaha menghangatkan badan. Para wanita memutuskan untuk berganti baju di dalam tenda agar saat malam hari terasa lebih hangat. Saat sore hari, kami mencoba memasak. Tapi kami mendapatkan accident di makanan kami. Sudah semangat sekali kami memasak karena aromanya nikmat. Tapi begitu dirasa, rasanya aneh dan pahit. Kami curiga bumbu mie ijo menjadi pelaku atau kami salah menggunakan air murni dengan air metanol untuk merebus. Mau tak mau makanan yang aromanya sudah nikmat itu kami buang dan kami membuat menu baru. Si ijo telah membuat kami trauma. Dan kami pun punya menu favorit baru, yaitu dinamit (seenaknya saja kami menyebutnya begitu karena rasanya mengingatkan kami seperti permen dinamit. Itu racikan khusus teman kami dari tolak angin di campur susu).

Racik meracik! Enak enggak enak, makan aja... :D

Menjelang malam, sebagian dari kami sudah tertidur dari sore. Alhasil hanya 6 orang yang bertahan untuk berbincang. Temanku si bolang, sedari sore mempertahankan api agar membesar, agar saat malam puncak nanti kami cukup hangat. Di tengah kobaran api, kami bercanda ria. Tapi moment ini dimanfaatkan salah satu temanku untuk curhat. Dan tentunya ia memanfaatkan aku yang memiliki title Sarjana Psikologi untuk memberikannya saran. Tapi angin dingin sulit membuatku konsentrasi dan berharap saran yang diberikan cukup ampuh baginya. Meski angin malam berhembus kuat dan dinginnya menusuk, kami masih semangat. Tapi badanku yang ringkih akhirnya menyerah. Ku selipkan kakiku di salah satu paha temanku sebelum aku memutuskan untuk tidur. Sayang sekali, saat itu belum tengah malam dan aku tertidur ketika teman-teman yang lain malah bangun untuk bercerita-cerita. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat tertidur. Yang pasti dengan meminjam jaket teman, aku meringkuk dengan teman wanita di dalam sleeping bag. Sudah dua lapis masih saja aku menggigil. Sayup-sayup aku mendengar teman-teman bercanda gurau di luar dan kemudian aku tertidur lelap.

Aku bangun esok paginya. Matahari sudah mengintip di balik gunung ketika dengan mata berat aku berusaha membuka mata. Teman-teman yang sudah dari pagi bangun memutuskan untuk menyambut sunrise tapi balik lagi karena kabut masih tebal. Kami sarapan bersama kemudian. Sedikit-sedikit kami bereksperimen dengan bahan makanan yang kami bawa. Untungnya enak! Menjelang siang kami masih makan. Tak lupa lagu diputar dari BB untuk meriahkan suasana. Kami bernyanyi bersama sembari bebenah sedikit.

Akhirnya waktu pulang tiba. Tenda-tenda mulai dilipat dan sampah-sampah bekas kami bakar. Setelah siap kami melingkar, mengucap doa perpisahan agar turun gunung dengan selamat. Kami menelusuri jalan serupa, kecuali untuk jalan melintasi rawa. Tidak ingin basah, kami jalan memutar. Cukup licin karena lumpur putih memenuhi telapak sepatu sendal kami. Selama perjalananpun kami menjumpai sekumpulan pendaki yang memutuskan pulang juga seperti kami. Selagi mereka lebih memilih jalan memutar, kami menuruni bukti yang cukup terjal dengan menggunakan tali untuk turun. Kami bertemu dengan orang asing yang membawa anjing untuk mendaki. Melihat orang asing itu sungguh terheran-heran. Ia menggunakan leging dan hotpants. Entah terlalu santai atau baginya medan ini tak cukup menantang untuknya sehingga ia memakai pakaian selayaknya mau ke Mall.

Kami kembali berjalan turun. Langit tampak mendung sehingga mereka yang didepan mempercepat langkah. Aku sedikit tertinggal dibanding yang lain. Bersama dua orang yang lain, kami bagai ekor. Ketika tak melihat sosok teman-teman, aku sedikit berkode tapi tidak ada jawaban. Perasaanku kami tertinggal cukup jauh. Kami mempercepat langkah ketika nafas kami sudah segaris. Ketika melihat sosok mereka yang sedang menunggu sembari bersantai, aku lega. Aku meminta izin untuk istirahat selama dua menit tapi begitu pantatku menempel tanah, temanku si bolang meminta kami bergegas. Wajar saja meningingat langit makin mendung sementara kami masih setengah jalan. Khawatir langkah kami akan licin karena hujan, kami begegas dua kali lipat.

Aku tidak mau lagi tertinggal karena aku tidak pandai membaca arah. Jadi aku melangkah cukup cepat dan tak berhenti untuk istiriahat atau berfoto-foto. Untungnya kami sudah mencapai tempat parkir sehingga kami langsung mempercepat langkah untuk menaru tas segera ke dalam mobil. Begitu berat beban tas dipundakku, ketika ku letakan tas itu di mobil, aku merasa melayang. Langkahku ringan begitu kuhampiri warung si ibu. Si ibu yang ramah menyambut kami ketika kami meminta sedikit air. Kami bersinggah sejenak sebelum berkendara pulang.

Sedikit ada yang usil ketika kami beristirahat. Salah satu pendaki menggodaku dan teman-teman mengecengiku. Untungnya tidak berlarut-larut karena akupun tidak meladeni. Setelah memaksa masuk tas-tas kami ke dalam mobil, beberapa dari kami berhempitan lagi, sementara aku dan salah satu temanku berpamit untuk pulang ke si ibu warung. Kami bersalaman dan menitipikan uang jasa inap bekas semalam. Si ibu warung pun menunggui kami hingga mobil kami melangkah keluar.

Jalan tentu tak berubah beraspal dalam semalam sehingga kami di hantar pulang dengan jalan bergeol-geol. Lamanya perjalanan membuat kami lapar sehingga saat matahari pamit undur diri, kami pergi mencari makan. Setelahnya, tentunya, kami melanjutkan perjalanan untuk pulang. Aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Tampaknya akibat kenyang aku jatuh tertidur. Aku dibangunkan ketika ketiga orang kami, yang dari Jakarta, pamit turun di bahu jalan tol untuk menunggu angkutan umum. Kami berdadah-dadah sembari menyelipkan harapan akan kita berjumpa lagi di lain waktu. Tapi kami memutar balik lagi saat sudah cukup jauh karena ada barang yang tertinggal. Aku tidak bisa bilang barang apa itu karena sebelumnya telah kuberi tahu telah menjadi kode etik untuk tidak membawa apa-apa dari alam (begitu abstrak dan berharap hanya sedikit yang mengerti). Salah satu teman wanita kami berkaca-kaca matanya, terharu melihat kami rela berputar lagi untuk mengantarkan barang yang tertinggal itu.

The Girls

Kami menelusuri langit Garut yang malam hingga akhirnya sampai juga di Bandung. Aku rakyat Sukabumi dan berhubung sudah malam, aku memutuskan untuk menginap di rumah teman dan pulang besok. Setelah kami membereskan barang-barang ke tempat kami kumpul pertama kali, aku dan teman wanitaku yang tersisa dihantar ke rumah teman wanitaku yang lain untuk menginap. Tentunya, setelah akhirnya bertemu dengan kasur, bantal, dan selimut, tidur malam kali ini menjadi teramat berbeda dibanding dua malam sebelumnya.

Tiga hari dan dua malam yang singkat. Itulah memoarku tentang perjalanan kami ke Papandayan, yang tentunya termemoarkan secara berbeda dari sudut pandang temanku yang lain. Hanya satu hal yang kuyakini benar di sini... berharap sekali lagi sebelum akhirnya menyudahi... betapa alam dan kawan, menjadi kolaborasi yang indah dan menyenangkan untuk kembali di jalani []


Tag in:
Adam, Husein, Rifki, Hanif, Jae, Vina, Ani, Joni, Muti, Mail, Diya, + Firzal