Selasa, 18 Februari 2014

N.A.I.F

Banyak orang yang tidak tahu aku memiliki pekerjaan terhebat dalam hidupku saat ini. PENYIAR. Oke, biar lebih keren: ANNOUNCER. Menulis kalimat tadi meningatkan aku akan blog sebelumnya yang berkaitan dengan passion. Ternyata, tidak sia-sia aku memperjuangkan kekeraskepalaanku meski terpaksa menentang orang tua. Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku tahu apa yang aku mau. Aku tahu ini beresiko tapi never try, never know. Resikonya setimpal dengan kebahagiaanku dalam bekerja. Ini membuatku senang dan bangga terhadap diri sendiri bahwa pilihanku tidaklah salah. Namun, disisi lain aku juga merasa sedih karena kenapa menulis kalimat kebanggaan ini menjelang seminggu aku akan resign dari dunia yang aku suka? Tapi merasakan nyaris kehilangan itu memang membuat aku sadar betapa ternyata aku sangat bangga menjadi insan radio.

nyaris kehilangan
Lantas, kenapa aku meninggalkan radio kalau itu membuatku bahagia? pertanyaan bagus. Jawabannya karena aku terlalu naif. Setelah menikmati satu tahun bersenang-senang dengan duniaku sendiri, aku lupa kalau aku memiliki hal lain yang lebih besar. Aku terlalu terlena dan.... egois (susah meyakinkan diri dibagian itu). Aku tidak hidup sendiri. Aku memiliki orang tua yang sudah pensiun dan adik yang masih kuliah. Gaji yang tidak seberapa dan nyaris tidak pernah kupusingkan menjadi peringatan. Meski gajiku selalu ku atur untuk keperluanku dan keperluan untuk orang tua, aku selalu merasa kurang. Kurang karena aku juga memiliki adik yang memiliki banyak kebutuhan. Aku lupa, kalau aku adalah tulang punggung keluarga sekarang. Keluargaku bergantung padaku sekarang dan mereka telah sabar selama setahun untuk menungguku sadar.

Jadi apakah ini bisa dibilang penyesalan? ya dan tidak. Ya karena aku begitu egois dan berpikir seadanya. Meski aku memberi mereka uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, dari lubuk hati yang teradalam aku tahu ada yang mengganjal. setalah dipikir-pikir, ternyata tidak ada yang kusesali. Justru aku semakin bangga terhadap diri sendiri. Telah merasakan dunia kerja yang membuat teman-teman seangkatan iri terhadapku, merasakan nikmatnya bekerja diiringin musik dan menghibur orang lain, merasakan banyak hal yang kutahu tidak akan kudapat bila aku bekerja di balik meja kantor. Aku merasa semakin kuat karena itu kuputuskan untuk melepaskan kenyamanan ini dan beralih ke sesuatu yang lebih menantang. Ya, aku harus keluar dari zona nyaman untuk meraih lebih. Kuputuskan untuk keluar dari dunia radio dan beralih ke jawatan yang lain. Jangan berpikir aku akan bekerja sebagai karyawan! Itu tidak akan terjadi jadi aku merasa beruntung mendapat kesempatan lagi oleh Tuhan untuk tetap di bidang media. (BIG THANKS GOD!). Bertempat di kota jakarta, kota yang dulu pernah kusinggahi dan mengikrarkan diri untuk tidak mau lagi balik ke kota stress itu. Senjata makan tuan? Ya. Tapi di balik itu semua ternyata aku adalah gadis kota. Aku harus kembali ke asalku dan menaklukan kota sialan itu. Terlepas dari semuanya aku hanya ingin menyampaikan satu hal: Dulu keputusan yang kuambil demi kepuasanku seorang. Sekarang kepuasanaku adalah kepuasan ayah, bunda, & adikku. Akan kulakukan apapun demi mereka. Ternyata, berjuang untuk orang-orang yang disayangi membuatku lebih mampu menghadapi apapun yang menjadi resiko kedepannya nanti tanpa meninggalkan kekeraskepalaanku akan passion itu sendiri.

Jadi, jangan seserius itu. Tenang, aku ini masih mutia. Siapalah aku kalau aku tidak keras kepala dan berontak?

Tidak ada komentar: