beberapa jam yang lalu sebelum menulis blog ini, saya bertemu dengan bapak berpakaian batik, bersepatu pantoefl, dan menenteng jaket hitam di salah satu lengannya.
saya tidak kenal dia.
dia pun tidak kenal saya.
kami bertemu saat saya baru keluar dari gerbang kampus, berjalan di depan gedung PMI jakarta dan di hampiri si bapak berpakaian batik.
ia menghampiri saya sambil ngos-ngosan dan bibir yang biru. ia keliatan lelah. lalu ia bertanya, " mba, kalau mau ke pancoran ke arah mana ya? "
lalu saya menunjuk ke arah depan. " bapak nyebrang jembatan dulu. terus naek bis. "
saya kira dengan hanya memberi petunjuk itu, si bapak sudah jalan dengan sendirinya. tidak tahunya dia mengeluh..
" Ya Allah... saya baru dari jempatan itu... ya ampun.. " katanya dengan membuang nafas yang berat.
saya tanya, " Bapak dari mana? "
tapi si bapak itu hanya menjawab dia dari Jawa. Jawa saja.
Dia menjawab pertanyaan saya dengan raut muka seperti orang yang berada di padang pasir dan kehausan. di dalam genggaman saya saat itu ada sebotol aqua yang tidak ada airnya.
Saya tahu bapak itu kelihatan lelah dan sangat kehausan. seharusnya saya tidak membuang sisa minuman yang tidak saya minum dengan alasan kembung ke sebuah pot di daerah kampus.
Saya merasa amat bersalah dan sangat menyesal telah membuang sisa minum itu.
karena merasa bersalah saya menawarkan diri, " kalau bapak mau ke pancoran, bareng saya saja... kebetulan arah saya ngelewatin pancoran. nanti kita naik bis bareng... "
si bapak dengan muka penuh harap merapatkan tangannya di dada, " Boleh mba kalau begitu.. tapi jangan sasarin saya ya... " ucapnya memelas.
mendengar jawabanya itu, saya merasa kasihan dan juga terkejut.
tidak mungkin orang berbicara seperti itu jika sebelumnya ia berusaha untuk mencari jalan namun tersasar pada akhirnya. akhirnya saya bertanya, " Bapak berangkat dari arah mana sebelum ketemu saya? "
Ia menjawab dengan rasa antusias. tapi saya menginterpretasikan sebagai nada yang penuh kecewa dan marah. " Saya jalan dari Meyestik. "
" Jalan pak? dari Mayestik? jauh banget pak.. " ucap saya tak percaya..
akhirnya dia bercerita..
dia dari jawa mau menemui saudaranya yang ada di daerah pancoran untuk menjemputnya karena ada sanak saudaranya yang meninggal...
yang benar-benar saya tangkap dari cerita dia hanya itu saja karena dia bercerita sambil jalan dan engos-engosan... dia entah dari mana, di turunkan sama supir bis di Mayestik... kata supir bisnya, tempat yang dia tuju sudah dekat.. namun sejauh dia jalan, dia tidak menemui patung yang sedang menunjuk itu... (pancoran)
saya merasa kasihan sekali..
namun di balik rasa kasihan, saya tersandung dengan realita bahwa ini adalah kota jakarta..
banyak orang yang menipu dengan bertingkah nyasar seperti ini..
namun rasa kasihan terhadap bapak ini lebih kuat ketimbang harus berprasangka buruk padanya..
dia bercerita, kalau istrinya orang tasikmalaya begitu saya menjawab pertanyaan dia kalau saya adalah orang bandung... (saya akhir-akhir ini selalu mengaku orang bandung klo ditanya dari mana asalnya ^ ^)
sejak itu, si bapak dan saya berbicara dengan bahasa sunda..
(sebenarnya, ia yang berbicara sunda. saya mengerti tapi tidak bisa bahasa sunda)
di ujung jembatan setelah menyebrang, saya dan si bapak berpakain batik menunggu bis 46 atau P6 yang biasa saya tumpangi..
selagi menunggu, ia mengeluarkan KTP dari dompetnya sambil mengeluarkan kalimat yang saya tidak mengerti apa maksudnya pada awalnya..
namun ketika dia mengeluarkan uang 1500 rupiah perak dari saku bajunya, saya jadi mengerti..
di dalam saku batiknya itu, ia hanya mempunyai uang 1500 dan bermaksud meminjam uang kepada saya dengan KTPnya sebagai jaminan...
saya semakin yakin dia hanya mempunyai uang 1500 di kantongnya saat ia berkata begini, " Saya takut saya di sangka pengemis sama orang-orang.. tapi saya butuh uang buat pulang.. saya putuskan tidak jadi kerumah saudara saya di pancoran itu karena alamatnya pun saya tidak begitu jelas.. begitu saya telepon kerumahnya, katanya sudah pindah ke cirebon.. saya jadi putus asa.. "
Aduh, mendengarnya hati saya tersentuk..
dari dalam dompet saya yang hanya ada uang 30 ribu, saya berikan 20ribu kepadanya. (saya tidak mungkin memberikan semuanya kepadanya, setidaknya saya pun harus punya uang buat pulang)
" ini buat bapak... supaya bisa bantu bapak.. " ucap saya sambil menyentuh pundaknya.
ia menerima uang saya dengan segan.
ia merasa tidak enak dan merasa ragu untuk mengambil uang yang saya beri itu, " Mba, saya takut disangka minta-minta... " ucapnya lirih.
saya langsung memotong ucapanya, " Enggak kok pa, saya ikhlas.. ambil aja pak.. "
saya kira dengan uang itu cukup. Saat saya tanya dia butuh uang berapa buat pulang, dia menjawab " saya naik bis, dan karcis bis mahal, 4o ribu mba... " ucapnya.
ia kurang 20ribu lagi..
di dompet saya hanya ada 10ribu tapi itu saya pakai untuk pulang...
saya dan dia sama-sama diam karena bingung harus bilang apa.
lalu ia memecahkan keheningan dengan berkata, " Mba, saya minta tolong... saya harus ke terminal pulo gebang buat beli karcisnya... tapi saya enggak ada uang... ini KTP saya, kalau mba mau nagih datang saja kerumah saya... "
saya mengerti maksud perkataan bapak ini.
namun saya pun tidak punya uang.
dengan berat hati saya bilang, " Maaf pak.. saya ada uang sebenarnya.. tapi 10ribu.. itu juga buat saya pulang... kalau rumah saya di daerah pulo gebang, saya bisa anterin bapak.. tapi rumah saya di bekasi pak... pulo gebang dan bekasi jauh jaraknya.. "
intinya perkataan saya ihi adalah, saya hanya bisa bantu sampai sini saja--dengan memberikan uang 20ribu saja.
tak lama berselang bis yang saya tunggu muncul dari kejauhan..
saya tanya sekali lagi ma si bapak itu, " Bapak jadi kepancoran? bis nya udah dateng.. "
tapi dia bilang, " enggak usah.. enggak jadi.. saya enggak tau rumah saudara saya dimana.. saya pulang aja.."
mungkin dalam wajah saya tersirat pertanyaan, bagaimana bapak pulang dengan uang 20ribu sedangkan uang yang dibutuhkan 40 ribu?
si bapak langsung menjawab pertanyaan tak terucap itu dengan berkata, " Saya jual jaket dan sepatu saya saja.. "
dengan reflek saya langsung menutup mulut saya.
saya ingin menangis.
Bapak itu lelah, tidak tahu berada di daerah mana, dan tidak punya uang...
lalu dia mendekap erat uang 20ribu yang saya beri, sambil berkata... " Doain saya ya mba.. terimakasih.. maaf jadi ngerepotin mba.. hatur nuhun.. " ucapnya lirih sambil menahan air mata yang menumpuk di kantung matanya.. (kelihatan sekali)
" Mangga pa.. hati-hati.. " ucap saya seadanya.
bapak itu pergi sebelum bis yang saya tunggu tiba di hadapan saya..
akhirnya saya menaiki bis itu sendiri dalam hati yang cemas, sedih, kasihan terhadap bapak itu dan marah karena merasa tidak bisa bantu apa-apa..
yang akhirnya saya hanya bisa berdoa semoga si bapak berpakain batik itu tiba sampai rumahnya yang jauh di sana dengan selamat..
4 komentar:
mutii..
ko muti bisa sih ktemu org kek gtu.
sani penn ktemuu..
muti bkin sani nangiss lg..
hhehe..
jangan lw yang baca blog gw..
gw yang ngalaminnya aj nangis..
hiks!
hehehe...
kok "lagi" cuuu??
sebelumnya pernah ya?
hikss
maaf!
ahhh muti..mudah tersentuh...haaa
lw ngapain ngaku" orang bandung?!
bisa bahasa sunda aja gak...haaa
belajar dulu atuh ama teteh..haaaa
maaf gw ga bisa ke said..gw kangen said
hhehe..
sanii pernah baca blog muti nangis juga. tp lupa yg manaaa. =)
hehe.. ayoooo nulis lagii sani pen baca
Posting Komentar