Negeriku di guyur hujan lebat bulan ini dan kurasakan dingin di kota asalku. Hujan hampir terjadi setiap hari di bulan Januari—membasahi kota pada malam hari dan meninggalkan sisa rintik-rintik hujan di pagi hari. Sinar matahari hampir tak pernah menyentuh kamarku karena setiap aku bangun pagi, membuka jendela—langitku selalu diselumuti awan mendung. Sebenarnya tidak ada masalah antara aku dan hujan. Aku suka hujan. Aku suka basah, dingin, apapun itu—sesuatu yang dapat menghindarkan aku dari panas. Tapi moodku terhadap hujan bisa mendadak hancur jika tetesan airnya berhasil menembus genting yang bocor dan menyebabkan dinding kamarku lembab--aku benci lembab.
Liburan semesterpun jadi terasa menyenangkan karena hujan. Saat liburan, aku lebih senang memilih kegiatan di dalam rumah dan hujan berhasil menahanku untuk tidak kemana-mana—di luar kemungkinan bahwa aku bisa nekat menerobos hujan jika teman-temanku menelepon untuk mengajak jalan. Tapi secara keseluruhan, hujan membuat kemalasanku semakin bertambah. Liburan sebenarnya kuartikan sebagai—kumpulan hari-hari dimana kau bisa melakukan apapun yang kau mau, membebaskan dirimu dari segala kegiatan yang membuatmu penat dan kau bisa bermalas-malasan sepuasmu. Dan hujan telah berhasil menjadi mitra terbaik untuk menciptakan malas yang paling asik.
Ibuku sering marah-marah jika hal itu terjadi. Aku rasa, aku berhak menerima kemalasan karena aku sudah lelah selama 5 bulan terakhir belajar terus. Aku sangat serius jika sudah berhubungan dengan belajar dan nilai, makannya tak heran jika selama 5 bulan itu aku merasa penat dan lelah. Sesampainya dirumah aku hanya ingin istirahat untuk menenangkan pikiran dan mengendurkan otot yang menegang dengan menonton tivi atau bermain internet. Itulah sialnya. Ibuku hanya melihat kegiatan ku dirumah saja. Tak heran ia mengecapku sebagai gadis pemalas karena dia tidak melihat bagaiamana kerja kerasku di kampus dan aku cukup malas juga untuk membicarakan kegiatan dikampus kalau sudah sampai dirumah.
Liburan semesterku akan berlangsung selama 2 minggu. Dalam 2 minggu itu aku merasa cukup untuk memanjakan diri dan kembali siap untuk melakukan kewajiban sebagai mahasiswa—belajar lagi di kampus. Tapi itu tidak akan terjadi padaku. Aku memiliki sedikit masalah. Oke, mungkin aku bisa menyebutnya sebagai masalah yang berasal dari keteledoran beberapa pihak sehingga menjadi masalah besar. Kampus terpaksa mencutikanku lantaran telat membayar. Aku sebenarnya tidak tahu menahu tentang masalah bayar-membayar. Jadi kupikir, ini bukan urusanku sehingga aku tidak harus peduli. Urusanku sebagai mahasiswa adalah belajar dan masalah bayar-membayar adalah urusan orang tua. Sialnya, kami—aku dan orang tua—sama-sama malas untuk memikirkan hal itu dan kami tidak memikirkan akibat dari kemalasan kami. Kami sama-sama malas mencari informasi dan aku benci mengatakan bahwa orangtuaku sepertinya mengandalkanku untuk mencari segala bentuk informasi disekitar kampus. Mungkin informasi yang berbau akademik lebih menarik perhatianku dari pada informasi mengenai kapan seorang mahasiswa harus membayar dan seharusnya orang tuaku tidak mengandalkanku untuk informasi semacam itu. Dan jelaslah bahwa dicutikannya aku dari kampus, menjadi kesalahan kami berdua tetapi aku masih menganggap diriku tak seharusnya merasa bersalah. Secara dominan, kesalahan ku anggap berasal dari kemalasan orang tuaku untuk mencari informasi itu.
Dari pengalaman-pengalamanku menjalani liburan, yang kulakukan hanyalah berdiam diri dirumah—bermain internet dan menonton tivi, sampai ada teman atau sanak saudara yang mengajak jalan, barulah aku keluar. Dan biasanya aku tidak memiliki masalah dengan itu. Tapi bisa aku bayangkan akan menjadi segila apa diriku jika aku tidak harus melakukan apa-apa selama 6 bulan—Jika selama 6 bulan itu hanya ku isi dengan bermain internet dan menonton tivi saja! 6 bulan adalah waktu yang dicutikan kampus padaku dan aku benci harus memikirkan apa yang harus kulakukan selama 6 bulan itu agar tidak bosan karena aku bukan tipe orang yang bisa mengisi hari liburan dengan aneka kegiatan yang tidak membosankan. Aku jadi panik karenanya. Sempat terfikir olehku awalnya bahwa aku akan mencari pekerjaan—magang selama 6 bulan dan orang tuaku ternyata lebih dulu telah merencanakan hal itu. Ibuku menelepon beberapa sanak saudara, menanyakan kepada mereka adakah program magang untukku. Aku senang tapi aku tidak suka kalau ibuku harus menceritakan alasan mengapa aku membutuhkan magang itu. Ibuku menganggap bahwa dicutikannya aku selama 6 bulan adalah aib—mungkin tidak sedramatisir itu, tapi jelas itu adalah hal yang memalukan dan aku diharuskan untuk menjaga ini sebagai rahasia keluarga. Ini menjadi beban bagiku.
Selama berjalannya waktu, tak terasa, dan aku menjadi tidak peduli sampai teman-teman kampus menanyakan kabar lewat sms. Mereka bertubi-tubi dan menanyakan hal yang sama, " Mut, lw kemana aja? kok g masuk kuliah? ". Yang bisa aku lakukan hanya memandang kalimat itu lekat2 dan mendiamkannya. Bahkan sampai sekarang tidak pernah membalas. Aku jadi merasa bukan bagian dari mereka--bukan bagian dari segala yang berhubungan dengan kampus. Aku jadi menggerutu kesal : kenapa sih mereka g urus aja urusan mereka sendiri! enggak usah peduli kayak gitu! enggak usah sok peduli!
tapi aku tahu mereka benar-benar peduli. Mereka sungguh peduli padaku. Melihat aku yang tidak ada di kampus saat pembelajaran sudah mulai selama 2 minggu, tentu mereka menerka-nerka apa yang terjadi padaku. Tapi aku tidak bisa cerita! aku malu! dan aku marah pada diri sendiri!
aku lelah dan aku makin tidak peduli.
kemarin, seorang teman sms, " Hari Rabu, jam 11 di depan Auditorium... ada mentoring.. jangan lupa bawa tugasnya. " Aku berusaha untuk tidak peduli tapi tetap tidak bisa. ada tugas yang belum aku kumpulkan dan terpaksa aku harus ke kampus. Dan mendadak aku melamun--membayangkan apa yang terjadi jika aku ke kampus. Tapi aku berusaha bertanggung jawab--yang penting serahin tugas dulu.
haha.. (aku tertawa miris dalam hati). Menempuh perjalanan 2 jam ke kampus hanya untuk menyerahkan tugas? terlalu rajin untuk ukuran anak yang memutuskan untuk tidak peduli lagi pada hal-hal yang berhubungan dengan kampus.
Dan benar saja, bayanganku sesuai dugaanku : aku bertemu dengan sebagian teman2 di kampus, tidak sengaja, dan kami sama-sama terkejut. Padahal aku berdoa jangan sampai bertemu dengan mereka. Walau sudah menyiapkan mental, tapi aku belom siap untuk memberikan alasan mengapa aku tidak kuliah2 juga?
tapi mereka peduli, terlalu peduli malah. Atau mungkin terlalu mencampuri urusan orang.... atau berita tentang aku di cutikan sudah terserbar? apapun itu, teman2 mengetahui masalahku tidak kunjung datang untuk kuliah. aku malu! tapi di sisi lain aku lega karena aku sudah lelah untuk menutupi semuanya. Aku hanya tersenyum ketika mereka melemparkan rasa simpati padaku.
dan senyumku semakin melebar ketika salah satu dosen bertemu denganku. Sebelumnya ia menanyakan sesuatu yang membuatku bingung. Ia tahu aku di cutikan tapi ia menganggap aku bolos mata kuliah. Tapi kemudian ia mengatakan, " Lho? emangnya kamu belom dapet pemberitahuan kalau di kasih kesempatan lagi sama kampus? Sayang mut kamu tuh.. nilai IPK kamu bagus, sayang kalau cuti kan? "
lalu aku di tarik ke bagian administrasi keuangan. Aku sudah bilang sebelumnya kan? kalau aku tidak peduli--apapun itu. Tapi melihat dosenku sebegitu gigihnya menerangkan keadaanku kepada pihak adminstrasi, aku jadi sedikit berharap.
dan harapan itu terkabul! dosen berhasil meyakinkan pihak administrasi kalau kelalaianku telat membayar adalah kewajaran karena aku baru semester 1 dan hal ini bisa di jadikan pelajaran agar tidak terjadi lagi, yang setelahnya di tambahkan kalimat yang intinya : " sayang anak kayak gini di cutikan. " (aku tersenyum geli).
rasa gembira, tidak suka, sedih melebur menjadi satu saat berita aku bisa kuliah lagi itu datang. aku gembira karena, ya, aku tidak harus ketinggalan 1 semester. Lalu aku panik menyadari bahwa aku tidak suka untuk mulai kuliah lagi. Aku tidak suka membayangkan wajah dan komentar teman2 yang sudah mengganggapku cuti, dan melihatku tiba-tiba muncul di kelas. Lagipula, aku sudah memiliki beberapa rencana untuk mengisi 6 bulan masa cutiku itu dengan kegiatan yang menyenangkan. Tapi kini terpaksa harus digugurkan karena aku tidak jadi cuti--jujur saja, ada perasaan lebih baik aku dicutikan karena aku malas kuliah. Lalu aku menyadari bahwa hal ini menjadi beban finansial bagi orang tuaku. Aku bisa melihat di wajah mereka, seakan-akan mereka mengatakan, : lebih baik di cutikan karena dalam waktu 6 bulan itu kami bisa menabung kembali untuk membayar ketelatan itu. Aku menjadi pasrah pada akhirnya dan menyerahkan semuanya kepada orang tua. Kalau mereka punya cukup biaya, maka aku akan kuliah lagi.
Tingkah orang tua memang menyebalkan! Mereka akan melakukan apa saja untuk kebaikan anaknya kan? dan itu membuatku menangis. Aku tahu keuangan di keluarga sedang tidak baik tapi mereka mendapatkannya--mendapatkan uang untuk biaya kuliah. Aku tidak sanggup membayangkan usaha mereka mencari uang itu agar aku bisa kuliah lagi. Aku meringis sedih.
hhh... yang bisa aku banggakan dari diri sendiri adalah nilai-nilai yang bagus untuk mereka dan sudah di putuskan akan aku lakukan itu!...( haha.. apa lagi? karena aku bukan anak shaleh dan penurut seperti adikku, apapun yang kulakukan selalu merepotkan mereka, cuma itu yang bisa aku berikan untuk mereka.)
sudah..
aku sudah menceritakan semuanya...
menjadi berguna kan wadah ini?
Hujan di bulan februari ini akan menemani hari-hari kuliahku yang akan ku mulai minggu depan (sebenarnya besok juga udah diperbolehkan kuliah, tapi aku memutuskan untuk menikmati liburan seminggu lagi.. hehe).
Siap kembali menerima tatapan dan komentar aneh teman2, tugas2 yang siap menumpuk, dan siap menerima siraman air hujan lagi saat berangkat atau pulang kuliah nanti...
6 komentar:
atas saran seorang teman, gw mencoba jujur... lebih baik daripada di pendem! jadi g usah pura-pura semuanya baik-baik saja. realistis!
hujan di bulan februari emang mantep coy. makanya nama gw andhika febrianto. bahaha.
haha kayaknya gw sedikit mengerti soal masalah ketidak pedean lu menulis kan ini mut.
ini pendapat gw aja ya, kadang-kadang manusia (gw) sring ingin menjadi bahan perhatian orang-orang. Ingin masalah yang kita punya diketahun sama orang lain untuk dikashihani tapi mau sok tegar juga. haha. kalo gw sih sering ngerasa kaya gitu.
Kalo soal yang lain, gw berpendapat masalah (contoh) informasi atau urusan pribadi adalah tanggung jawab masing-masing yang terkadang dunia ini membuat kita lupa akan hal itu. hahah.
Jadi karena sulitnya menemukan putih hitam nya, lebih baik melakukan hal baik yang menguntungkan diri sendiri tapi tidak merugikan orang lain aja dah. haha.
betul banget!
bukan sok tegar, tapi berusaha tegar.. tapi pada dasarnya g ada manusia yang bisa hidup sendiri...
segala permasalahan yang ada membuat kita berharap ada yang menyadari kalau kita lagi ada masalah, berharap mereka peduli tanpa kita bilang masalah kita..
kalau gw nemu orang kayak gitu, gw lega banget dan g harus curhat di blog.. hehe..
gw bilang sory ma orang tua aja g pernah, n malah gw tulis semua masalah dan penyesalan di blog dan berharap orang tua gw baca blog gw aja.. supaya mereka tau gw sebenarnya sedih, pengen minta maaf ma mereka tapi malu dan kayak apa gw sebenarnya.. hehe..
tapi thx pisan dik!
semuanya: sebelum dan sesudah gw menulis postingnya.. thx pisan!
wah kalo soal orang tua nih ya, gak ada yang bisa disembunyikan apalagi kalo hanya soal perbedaan pendapat antara anak dan orang tua. sebelum terlambat, komunikasi anak dan orang tua harus diperbaiki. percaya deh.
mungkin ini bisa jadi inspirasi lu soal orang tua.
azizluthfi.blogspot.com
itu blog bokap gw, dia pernah nulis buat ulang tahun ke 17 gw. Mungkin sebenernya banyak yang kita gak tahu soal orang tua.
hahaha..gw tau blog bokap lw kok..
terakhir kali gw baca blog bokap lw sebelum uan..
baca bareng rara.. hehehe..
Haha bokap gw curang juga udah eksis duluan.
Yah tapi itu lah orang tua mut, kita suka tidak tahu apa mau mereka, namun terkadang kita kesal atau kecewa dengan ketidak puasan terhadap peran mereka. Namun, kalau mau bicara akhirat ya raih lah Ridha Allah dengan mendapatkan Ridha orang tua. Ada hadist nya kok. ^^
Posting Komentar