Perubahan benar-benar di rasa oleh kami yang udah kelas 3 ini..
kalau gw perhatiin, mata kami, anak kelas 3, tidak sebening waktu kami kelas 1 atau 2. Semuanya sayu... seakan-akan memberitahukan kepada siapapun yang menatap kami kalau kami belajar pagi, siang, dan malam tanpa henti...
menjelang uan pun kami jadi rajin shalat dan puasa + shalat tahajud.
hal yang jarang sekali kami lakukan waktu kami kelas 1 dan 2.
semua di lakukan agar kami lulus uan 100% (amien).
agar kami lulus dari sebuah sistem yang bobrok!
kemarin, anak kelas ipa di tes kemampuan berbicara di depan publik. kelas gw, 3ipa2, mengambil tema UAN. kita berteater ria.. ada yang bertugas sebagai pro uan dan ada yang bertugas sebagai kontra uan...
pengen dech rasanya pertunjukan teater kami di pertontonkan oleh mereka yang mengaku-ngaku berpendidikan tapi tidak berpendidikan...
mungkin benar kalau UAN hanya mengatasnamakan pendidikan tapi sebenarnya sebagai ladang lahan korupsi..
Sesuai perundangan UUD 45 tentang pendidikan, bahwa guru itu benar dan pemerintah PALING benar.
Seperti dalam pelajaran kimia, sebuah larutan.. untuk mengetes kelarutan, kita tidak harus mengambil semua larutan untuk di ujicobakan. Cukup setetes atau 2 tetes saja yang di ambil dan lihat reaksinya. Kalau ini di ibaratkan kita para siswa, sungguh wasting time banget!
kalau begitu, kenapa enggak dari awal aja kita di masukkan ke kelas yang pelajarannya adalah kesesuaian dengan bakat dan kebutuhan kami? dalam pekerjaan kami nanti juga,kami bekerja sesuai dengan skill bukan dengan nilai-nilai pelajaran yang cuma ngabisin kertas doang. kerformalitasan yang tidak berguna!
kita ini ibarat anak burung yang seharusnya belajar terbang, tapi malah di suruh belajar berenang!
dari pada tes UAN gitu, mending tes lifeskill dech...
kalau ternyata banyak yang enggak lulus, jangan salahkan kami. Kami hanya segumpal daging dan sekumpulan syaraf-syaraf otak yang di paksa mengikuti kebijakan pemerintah yang tidak tahu seperti apa kami ini sebenarnya. Merasa dirinya paling tahu kami, tapi sebenarnya tidak tahu kemampuan kami! belajar dari pengalaman dong bapak pemerintah! sok-sok meningkatkan standarisasi agar kemampuan kami sama seperti kemampuan negri tetangga, tapi kenyataan yang keluar adalah justru tindakan pemerintah itu sendiri yang mempermalukan negara! ubah dulu sistem pendidikan dan biarkan kami mengasah kemampuan dan menjadi juara dalam bidang masing-masing baru kita bersaing dengan negeri tetangga dengan kemampuan kami yang sebenarnya!
betul tidak?!
udah ah, cape...
2 komentar:
yang ini begitu persuatif malah terlalu provokatif. hati-hati dengan yang satu ini, jika suatu saat anda terlena lalu terpaksa menjulurkan lidah untuk menjilat air liur yang terlanjur tumpah berceceran. karena bisa saja anda suatu saat menjadi peserta para korporat diantara bapak-bapak yang disebutkan samar tadi. dunia tidak bisa disama ratakan dengan satu sudut pandang, sangat basi dan tidak menarik. dan ketika dua sisi dipertemukan, setiap-tiapnya akan memiliki dua sisi menarik maupun dua sisi suram. jadi, jangan belajar mencaci karena lebih susah untuk bercermin. sudah siapkah anda melawan indonesia beradvokaat luar negeri dan berinsinyur hebat dengan beberapa teriakan!.
pesan moral : pesan provokatif akan dibalas provokatif (menyulut pertikaian).
walah...
tidak bermaksud untuk persuatif ataupu provokatif..
hanya saja,
ingin sekali menuangkan kekesalah pada pemerintah dan sedikit melemaskan otot-otot jari tangan..
munkin ini suatu kelemahan di karenakan tidak bisa berkomentar atau berteriak langsung kepada si pemerintah... atau mungkin bisa di bilang suatu kepengecutan?
mohon maaf apabila ada yang tersingung dan terimakasih kepada mendekati surga yang sudah menyadarkan dengan kata-kata yang bikin bucat...
yah... jadi, apa boleh bucat kan?
* M U T I I A
Posting Komentar