Sabtu, 23 Agustus 2008

HARI ITU...

2 hari yang lalu terhitung dari hari ini saya menjadi anak durhaka...
saya mendapatkan petuah dari ibunda. beliau berkata, " Kamu ini sudah dewasa. Tolonglah.... Di sekolah kamu bisa mengkoordinir teman-teman kamu. kalau di rumah coba kamu koordinir diri sendiri. jangan apa-apa disuruh melulu. Kamu suka marah kalau di suruh-suruh tapi kamunya tidak punya inisatif. kok punya anak seperti ini? gimana kalau ayah sama bunda sudah tua nanti?"

Saya memalingkan wajah lantaran tidak sanggup menyaksikan wajah ibunda yang merah menahan tangis. tidak sanggup.

beliau mengatakan itu karena pagi hari nya sebelum berangkat ke bandung, saya dengan durhakanya membuat beliau menangis karena hal sepele, menurut saya. tapi saya akui kata-kata yang menyeleneh keluar dari mulut saya tanpa di saring membuat hati ibunda perih tak terkira. ibunda saya menangis dan lagi-lagi saya memalingkan wajah.

malamnya, adik saya melemparkan komik yang sedang dia baca. Dia marah mendengar saya dan ayahanda bertengkar. lagi-lagi karena lidah saya sedemikian tajamnya berbicara pada orang tua. Tidak perlu tangisan ayahanda saya untuk membuktikan bahwa saya benar-benar anak durhaka.

sungguh, saya tidak bermaksud berbicara lancang seperti itu terhadap orang tua. tapi saya menyadari, begitu pulangnya saya dari menuntut ilmu di bandung, saya benar-benar terlihat seperti orang yang tidak berilmu. kemampuan saya berbicara di depan umum, berdebat. yang saya latih selama di bandung itu, sering kali tidak tepat bila berbicara kepada orang tua. ada kalanya saya merasa hebat di bandingkan orang tua saya sehingga saya merasa kesal bila di nasihati mereka. saya menjadi marah, dan tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang siap di azab olehNYA lantaran membuat orang tua menangis.

di tengah-tengah nasihatnya, saya di bandingkan oleh anak orang lain. saya marah. bukan karena saya di bandingkan melainkan kenapa saya tidak bisa menjadi anak yang punya sopan santun terhadap orang tua? begitu susahnyakah menjadi penurut? begitu susahnyakah saya berucap 'maaf' membuat mereka sedemikian sedih telah menghadapi saya? ada apa dengan saya?

saya tidak lupa mendoakan orang tua saya sehabis shalat, tahajudan, kumailan, yasinan.
saya pun tidak lupa meminta kepadaNYA untuk menjadi anak yang shaleh, yang patuh akan perintahNYA dan perintah orang tua saya, karena saya tahu ridhanya orang tua adalah ridhaNYA dan murkanya orang tua adalah murkaNYA--walaupun saya berdoa demikian agar terhindar dari amarahNYA.

tapi apa hasil dari doa-doa saya?
di kabulkankah doa-doa saya?

saya menyadari satu hal pada akhirnya.
jika saya meminta kepadaNYA keshalehan seorang anak terhadap orang tua, akankah DIA memberikan keshalehan itu pada saya?
DIA menjawab doa-doa saya melalui serangkaian kejadian-kejadian saya dengan orang tua saya.
Saya yang membantah, keras kepala terhadap pendirian sehingga membuat mereka kesal, membuat mereka menangis pada akhirnya adalah ujian yang DIA berikan--bisakah saya menahan ego saya dan menjadi anak shaleh walaupun sekali saja?

Saya yakin tertumpuk sudah kekecewaan orang tua saya terhadap saya dan DIA menyadarkan saya melaui ledakan air mata mereka.

pada akhirnya saya hanya bisa mengucapkan maaf kepada orang tua saya yang tertelan bersama ludah dan terimakasih padaNYA dalam shalat-shalat saya.

saya tahu ini belum terlambat.
ini baru awal.
dan tidak akan lagi membuat mereka menangis.

Tidak ada komentar: