Sempat terfikir oleh saya, apa keputusan saya untuk kuliah di jakarta adalah keputusan yang baik?
rumah yang saya rindukan, hanya menjadi tempat tidur, nonton, dan makan saja..
saya merasa sendiri...
hubungan dengan keluarga dirasakan tidak lancar semenjak saya di jakarta.. padahal salah satu alasan terkuat saya untuk kembali ke jakarta adalah untuk dekat dengan mereka..
saya tidak pernah sepaham dengan mereka--bahkan saya dengan ibu saya sendiri..
kadang-kadang saya sempat berfikir, apa ada yang salah dengan otak saya?
kenapa berbeda sekali cara pandang saya dengan mereka sampai-sampai berujung dengan acuh tak acuh..
kampus mau tidak mau menjadi tempat yang terbaik pada akhirnya.. padahal tempat itu merupakan tempat pertama yang saya anggap tidak mencerminkan diri saya sama sekali--sampai sekarang, tapi saya merasa lebih senang di kampus ketimbang dirumah..
saya merasa masalah utama saya dirumah adalah komunikasi saya dengan ayah..
ada yang salah..
tidak seperti dulu..
semenjak saya menetap dirumah, saya menjaga jarak dengan orang tua.. tapi jeleknya, saya merasa itu seperti sebuah keharusan..
karena tidak sepaham, saya jadi jarang cerita--bagaimana saya dikampus, kejadian saya pada hari ini, apapun, karena saya menjadi kesal pada akhirnya sebab perbincangan kami pasti berujung pada berselisih kata..
salah satunya yang paling menghibur di rumah adalah tivi dan adik saya..
mengingat bahwa adik saya merupakan hal yang membuat saya sedikit betahan dirumah, saya merasa malu juga tidak percaya..
seperti halnya adik dan kakak, hubungan kami penuh dengan pertengkaran saudara dan ja-im untuk menunjukan rasa kasih sayang antar sesama namun saya tidak merasa itu sebagai suatu halangan. Anehnya, saya merasa asik karenanya..
adik saya cowo tapi bisa menjadi tempat curhat yang hebat..
ia pendengar yang baik (sangat baik! sampai-sampai rela mendengarkan saya bercerita berjam-jam!)
ia tidak akan pernah komentar apa-apa..
tidak pernah menasihati saya ketika saya curhat karena memang itu yang saya butuhkan.
saya hanya butuh di dengar tanpa di hiasi nasihat karena saya telah memiliki nasihat untuk saya sendiri.. saya tahu apa yang harus saya lakukan..
saya tidak pernah mencurhatkan kepadanya soal yang seperti ini, hal-hal yang kecil saja--hal-hal yang tidak bisa saya perbincangkan dengan orang tua saya...
saya jadi tidak beranggapan bahwa adik saya adalah adik saya.. tapi teman sekaligus kakak..
dan itu membuat saya nyaman.. setidaknya dirumah..
ketika rumah tidak lagi menjadi tempat yang sepenuhnya nyaman, saya pun mencari kenyamanan itu diluar rumah..
saya merasa lebih baik jika dikampus..
namun yang saya takutkan, ketika di kampus saya merasa ada masalah, saya merasa harus menyelesaikan ini bersama teman-teman tapi tidak saya temukan, saya menjadi cemas..
saya bukan tipe orang yang mencurhatkan segalanya di buku diari karenanya saya harus menemukan orang yang tepat untuk saya ajak curhat.. tapi pedihnya, tidak ada! saya tidak menemukan orang yang tepat, saya tidak menemukan orang yang membuat saya nyaman..
akhirnya saya melarikan diri..
melamun..
lalu menangis..
jika ingat, saya akan menuliskannya di dalam blog (seperti sekarang ini)..
disaat butuh seseorang untuk saya keluhkesahkan namun tidak menemukannya, saya rindu kamar saya..
rasanya menyenangkan bisa sendirian dikamar.. tidak harus tersenyum dan tampak gembira.. kamar saya adalah teman bisu yang paling saya cintai..
namun, tidak saya temukan disini--tidak dirumah ini..
saya merasa kamar saya hanyalah sebuah kontrakan yang sewaktu-waktu saya bisa diusir darinya.. kamar saya hanya menjadi tempat saya tidur dan tempat ganti baju (tempat belajar, mungkin bisa)..
saya tidak menemukan kenyamanan di dalam kamar saya sendiri..
disaat seperti ini, saya rindu kamar saya yang dulu..
rumah yang saya rindukan, hanya menjadi tempat tidur, nonton, dan makan saja..
saya merasa sendiri...
hubungan dengan keluarga dirasakan tidak lancar semenjak saya di jakarta.. padahal salah satu alasan terkuat saya untuk kembali ke jakarta adalah untuk dekat dengan mereka..
saya tidak pernah sepaham dengan mereka--bahkan saya dengan ibu saya sendiri..
kadang-kadang saya sempat berfikir, apa ada yang salah dengan otak saya?
kenapa berbeda sekali cara pandang saya dengan mereka sampai-sampai berujung dengan acuh tak acuh..
kampus mau tidak mau menjadi tempat yang terbaik pada akhirnya.. padahal tempat itu merupakan tempat pertama yang saya anggap tidak mencerminkan diri saya sama sekali--sampai sekarang, tapi saya merasa lebih senang di kampus ketimbang dirumah..
saya merasa masalah utama saya dirumah adalah komunikasi saya dengan ayah..
ada yang salah..
tidak seperti dulu..
semenjak saya menetap dirumah, saya menjaga jarak dengan orang tua.. tapi jeleknya, saya merasa itu seperti sebuah keharusan..
karena tidak sepaham, saya jadi jarang cerita--bagaimana saya dikampus, kejadian saya pada hari ini, apapun, karena saya menjadi kesal pada akhirnya sebab perbincangan kami pasti berujung pada berselisih kata..
salah satunya yang paling menghibur di rumah adalah tivi dan adik saya..
mengingat bahwa adik saya merupakan hal yang membuat saya sedikit betahan dirumah, saya merasa malu juga tidak percaya..
seperti halnya adik dan kakak, hubungan kami penuh dengan pertengkaran saudara dan ja-im untuk menunjukan rasa kasih sayang antar sesama namun saya tidak merasa itu sebagai suatu halangan. Anehnya, saya merasa asik karenanya..
adik saya cowo tapi bisa menjadi tempat curhat yang hebat..
ia pendengar yang baik (sangat baik! sampai-sampai rela mendengarkan saya bercerita berjam-jam!)
ia tidak akan pernah komentar apa-apa..
tidak pernah menasihati saya ketika saya curhat karena memang itu yang saya butuhkan.
saya hanya butuh di dengar tanpa di hiasi nasihat karena saya telah memiliki nasihat untuk saya sendiri.. saya tahu apa yang harus saya lakukan..
saya tidak pernah mencurhatkan kepadanya soal yang seperti ini, hal-hal yang kecil saja--hal-hal yang tidak bisa saya perbincangkan dengan orang tua saya...
saya jadi tidak beranggapan bahwa adik saya adalah adik saya.. tapi teman sekaligus kakak..
dan itu membuat saya nyaman.. setidaknya dirumah..
ketika rumah tidak lagi menjadi tempat yang sepenuhnya nyaman, saya pun mencari kenyamanan itu diluar rumah..
saya merasa lebih baik jika dikampus..
namun yang saya takutkan, ketika di kampus saya merasa ada masalah, saya merasa harus menyelesaikan ini bersama teman-teman tapi tidak saya temukan, saya menjadi cemas..
saya bukan tipe orang yang mencurhatkan segalanya di buku diari karenanya saya harus menemukan orang yang tepat untuk saya ajak curhat.. tapi pedihnya, tidak ada! saya tidak menemukan orang yang tepat, saya tidak menemukan orang yang membuat saya nyaman..
akhirnya saya melarikan diri..
melamun..
lalu menangis..
jika ingat, saya akan menuliskannya di dalam blog (seperti sekarang ini)..
disaat butuh seseorang untuk saya keluhkesahkan namun tidak menemukannya, saya rindu kamar saya..
rasanya menyenangkan bisa sendirian dikamar.. tidak harus tersenyum dan tampak gembira.. kamar saya adalah teman bisu yang paling saya cintai..
namun, tidak saya temukan disini--tidak dirumah ini..
saya merasa kamar saya hanyalah sebuah kontrakan yang sewaktu-waktu saya bisa diusir darinya.. kamar saya hanya menjadi tempat saya tidur dan tempat ganti baju (tempat belajar, mungkin bisa)..
saya tidak menemukan kenyamanan di dalam kamar saya sendiri..
disaat seperti ini, saya rindu kamar saya yang dulu..
kamar saya waktu saya dibandung..
kamar itu, kamar kosan saya..
aneh ya? kok kamar kosan lebih nyaman ketimbang kamar milik sendiri di rumah? tapi itulah adanya..
saya bahkan bisa menemukan tempat favourite saya di dalam kamar itu..
saya senang meja belajarnya--membuat saya semangat belajar..
saya senang pintunya--membuat saya seperti membuka dunia yang dunia itu memang tercipta untuk saya..
seluruh ruangan disana tercipta untuk saya.. saya merasa bebas disana..
sesedih apapun saya, sedih itu adalah kegembiraan saya..
namun diantara semuanya, saya senang jendelanya..
jendela itu lebarnya selebar pintu yang memiliki panjang tidak sepanjang pintu..
jendela itu berwarna coklat.. terbuat dari kayu.. dan dihalang oleh trali-trali bercet putih..
saya gantung gorden berbelang kuning dan biru untuk menutupinya dengan tambahan berbagai pin/bros yang sengaja saya tusukan di gorden itu sebagai hiasan.. meja belajar tepat berada didepannya.
jendela itulah yang membuat belajar saya menjadi menyenangkan..
jika sinar matahari sore masuk, warna orange dari sumber kehidupan itu akan masuk lewat jendela saya dan dibiaskan oleh gorden saya..
indah sekali..
saya bisa duduk di depan meja belajar selama berjam-jam--melamun, belajar, menangis dengan memandangnya..
jendela itu bahkan bisa memancing saya untuk memikirkan Tuhan bila tertimpa hal yang menganggu perasaan..
kamar itu, kamar kosan saya..
aneh ya? kok kamar kosan lebih nyaman ketimbang kamar milik sendiri di rumah? tapi itulah adanya..
saya bahkan bisa menemukan tempat favourite saya di dalam kamar itu..
saya senang meja belajarnya--membuat saya semangat belajar..
saya senang pintunya--membuat saya seperti membuka dunia yang dunia itu memang tercipta untuk saya..
seluruh ruangan disana tercipta untuk saya.. saya merasa bebas disana..
sesedih apapun saya, sedih itu adalah kegembiraan saya..
namun diantara semuanya, saya senang jendelanya..
jendela itu lebarnya selebar pintu yang memiliki panjang tidak sepanjang pintu..
jendela itu berwarna coklat.. terbuat dari kayu.. dan dihalang oleh trali-trali bercet putih..
saya gantung gorden berbelang kuning dan biru untuk menutupinya dengan tambahan berbagai pin/bros yang sengaja saya tusukan di gorden itu sebagai hiasan.. meja belajar tepat berada didepannya.
jendela itulah yang membuat belajar saya menjadi menyenangkan..
jika sinar matahari sore masuk, warna orange dari sumber kehidupan itu akan masuk lewat jendela saya dan dibiaskan oleh gorden saya..
indah sekali..
saya bisa duduk di depan meja belajar selama berjam-jam--melamun, belajar, menangis dengan memandangnya..
jendela itu bahkan bisa memancing saya untuk memikirkan Tuhan bila tertimpa hal yang menganggu perasaan..
lega bisa memandang murung ke luar jendela, memandangi hujan lebat dan membiarkan kesedihan saya mengalir..
dimeja itu,
dengan memandang jendela itu,
itulah jendela yang kurindukan..
jendela yang tak saya temukan dirumah saya, bahkan dikamar saya saat ini..
jendela yang menjadi teman bisu segala peristiwa saya--tertinggal bermil-mil jauhnya disana..
dan saya butuh jendela itu sekarang karena saya cemas kepada siapa lagi harus saya berikan padangan murung ini?
.jpg)
2 komentar:
curhat ke akyu juga hayu lho Mut hehehehe
wah....mammmyyyy!!!
aku g nyangka dirimu comment ke akuuu!
wajahku memerah malu dan senang!
terimakaih mammyyy udah comment!
miss you miss you
Posting Komentar