Sebagai seorang sarjana muda, rasanya menjadi wajar untuk memikirkan kelanjutan hidup setelah menempuh pendidikan formal sebagai mahasiswa. Apa rencanamu selanjutnya? Hirarkinya setelah mendapatkan gelar, mahasiswa mencari pekerjaan. Mencari yaaa? kalau membuat bukannya lebih produktif? sembari berpikir seperti itu, apakah itu suatu bentuk dari rasa frustasi yang mencari-cari jawatan tak tentu arah? Yang penting dapet kerjaan dech. Rasanya kok klo kayak gitu, kayak jual ijazah ya? Jadi ingat baca headline dari suatu koran yang mengatakan kalau " Kerja sesuai passion itu memiliki resiko yang tinggi tetapi terdapat kepuasan besar yang menanti. ". Memang sudah seharusnya untuk bekerja sesuai dengan passion kita 'kan? Tapi secara pribadi, pandangan ini terbentur oleh adanya tanggung jawab karena berkarya (saya anti menyebutnya bekerja) yang sesuai dengan passion saya, membutuhkan waktu yang lama. Entah kenapa saya merasa akan menghasilkan waktu yang lama tapi saya percaya bahwa saya akan sukses di bidang itu karena saya memiliki kemampuan untuk sukses dibidang yang yang saya cintai. Saya menjadi semakin yakin ketika karya saya diakui oleh orang lain dan mereka mengatakan saya memiliki bakat disana, kemampuan saya dalam tulis-menulis akan menuntun saya ke dalam diri saya sesungguhnya. Saya percaya bahwa saya akan hidup dan menghidupkan orang lain dari passion saya. Akan tetapi, untuk saat ini sepertinya pandangan itu menjadi sering kali redup karena keinginan orang tua yang masih memiliki pandangan konvensional. Bahwa yang namanya bekerja itu, yaaa.. di kantor. Di gedung bagus. Di perusahaan bagus. Karena orang tua sudah berdeklarasi seperti itu, saya jadi ciut untuk menyuarakan apa yang menjadi keinginan saya. Mungkin saya pengecut atau tidak ingin menghancurkan harapan orang tua. Makannya saya "jual" ijazah kesana kemari tanpa ada semangat sedikitpun disana. Suatu ketika, saya menonton acara yang mempertontonkan Salman Aristo, seorang screenwriter kenamaan Indonesia. Dia juga membicarakan masalah passion kerja disana. Salman Aristo yang gemar menonton film dan menulis, menjadikan dirinya screenwriter yang handal. Itu semua berasal dari kegemaran--minat. Perkataan Aristo membuat hati saya terketuk kembali. Saya juga gemar film dan menulis. Di laptop, saya memiliki 5-7 cerita yang belum rampung. Kendala saya
adalah ketika saya sedang fokus menulis, tiba-tiba di dalam kepala saya
terlintas sebuah cerita baru. Haaaa... susah jadinya untuk fokus ke 1
cerita karena begitu menemukan tema cerita yang bagus, saya menjadi
gatal untuk tidak menuliskannya.Saya ingin sekali menjadi novelis seperti Dee lestari atau Andrea hirata. Menuliskan hal-hal yang menyuarakan pengalaman moral dan imajinasi yang luar biasa.
Is it great, Isn't it? :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar