Keluar Dari Penjara!
21 Juli 2012
Hari pertama puasa.
Aku mendapatkan sebuah deringan telepon. Nada panggil yang kukenal membuatku
malas mengangkatnya. Karena tahu kalau telepon itu dari orang tua, aku menjawab
sembari menguap.
“Hallo?” jawabku tak bersemangat.
Dari seberang—ibuku—yang selalu tahu
kalau kebiasaan tidur anaknya terbalik—malam bangun dan pagi hari sampai siang
malah tidur— menyuruhku untuk shalat diawal pembicaraan. Aku berterimakasih
dengan cara Tuhan yang selalu menyadarkan umatNya untuk tak lupa beribadah.
Tapi ibuku yang to the point, selalu bisa berbicara apa yang ingin
dibicarakannya tanpa kata-kata pengantar.
“Mba, kalau kamu kerja sebagai PNS,
kamu mau kerja dimana?” tanya ibuku tiba-tiba. Pertanyaan itu berhasil membuat
paksa setengah nyawaku berkumpul. Ingatanku
kembali kepada sehari sebelumnnya dimana orang tuaku, tepatnya ibuku, datang
hanya untuk mendengarkan syarat-syarat PNS yang kusimpan di dalam laptop dan belum
sempat kutunjukkan kepadanya. Malam sebelumnya, sebelum aku mendapatkan
syarat-syarat itu, aku mendapatkan sms berbunyi: “for your urgent (dad): kalau muti mau coba jadi pegwan negeri bisa
mengajukan lamaran dan baca selengkapnya di http://rekrutmen.dep.keu.go.id, http://cpnsonline.mahkamahagung.go.id,.........”
dan dua alamat institusi pemerintahan lainnya. Membaca sms itu saja setengah hati, tapi aku
putuskan untuk mengecek ke warnet.
Karena perasaan yang setengah hati, pencarian
pun menjadi setengah hati. Aku malah membuka hal-hal yang aku suka. Aku suka
menulis jadi aku membuka salah satu pengarang fiski kesukaanku, Sitta Karina. Hebatnya, aku merasa tidak sisa-sia dan
beruntung telah membuka itu. Website pribadinya memberiku banyak peluang dan
pelajaran bagaimana menjadi penulis kreatif seperti dia.
Balik lagi kemasa kini. Ingat, pepatah buah tak
jauh dari pohonnya ‘kan? Pertanyaan yang tiba-tiba dari ibuku, dari telepon
saat aku sedang tidur itu, ku jawab juga to the point.
“Mba, kalau kamu kerja sebagai PNS, kamu mau kerja
dimana?” tanya ibuku lagi kala itu.
”Enggak dimana-mana.” jawabku apa adanya.
Kemudian ibuku berkata bahwa dia sangat ingin
anaknya kerja sebagai pegawai negeri. Enggak ada salahnya untuk mencoba.
Setidaknya ada usaha. Mendengar itu aku hanya bisa diam. Dalam hati aku
berkata, Muti udah usaha ’nda. Udah banyak CV yang muti kirim ke sana sini.
Rasanya ingin berteriak, bukan salah Muti ’kan kalau belum ada panggilan? Bukan
berarti belum ada sama sekali. Sebelumnya pernah ada panggilan tapi giliran ada malah
membebani orang tua karena tidak di gaji selama masa percobaan,
padahal aku sangat menginginkan kerja di sana. Sementara panggilan yang lain,
walau sudah diterima 90% karena CVnya bagus, kantornya yang malah mencurigakan.
Kalau berbicara mengenai usaha, kenapa bunda enggak mendukung Muti atas
usahanya yang ingin menjadi penulis? bukannya mendukung anak untuk jual ijazah
ke sana sini. Ingin sekali berkata seperti itu!
Di dunia ini, orang tua mana yang tidak ingin
anaknya bahagia? Pertanyaan itu juga kami lontarkan sebagai anak: Anak mana
yang tidak ingin membahagiakan orang tuanya? Aku juga ingin ibuku bahagia
karena itu aku berusaha cepat lulus kuliah agar tidak membebenai mereka karena uang kuliah yang
mahal. Akupun akhirnya menjadi sarjana psikologi berpredikat cum laud agar
mereka bangga punya anak sepertiku. Mereka memang bangga, tapi mereka, terutama
ibuku, lebih bangga lagi kalau aku menjadi seperti yang ia mau—bekerja sebagai
PNS yang mempunyai gaji besar dan dana pensiun yang ditanggung pemerintah.
Kenapa
kesejahteraan seseorang jaman sekarang ditentukan dari mana ia bekerja? Kemudian
aku berpikir, apa yang salah dalam cara berpikirku? Aku yang terlalu idealis
atau aku yang tidak realistis? Aku sama sekali tidak menganggap bekerja sebagai
PNS itu sebagai kehormatan tapi orang-orang disekitarku begitu bangga kalau
mendengar aku diterima bekerja sebagai pegawai kantoran. Kalau pemerintah bisa diandalkan dari segi gaji dan
moralitas, aku mau saja melamar ke sana. Tapi bukan itu alasan aku tidak ingin
bekerja di instansi pemerintah. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku tidak
seperti orang kebanyakaan. Aku berbeda.
Maka dari itu, aku hanya bisa diam saja saat
ibuku—ditelepon—mengatakan kebahagiaannya kalau saja anaknya bisa bekerja di
PNS. Mereka sebenarnya tahu kalau aku tidak suka dan biasanya kami akan
berdebat soal itu. Tapi saat itu aku menahannya. Mungkin karena efek bulan puasa.
”Syarat jadi PNS ’kan banyak nda, enggak kayak di
swasta. Harus ada keterangan
dari dokter segala. Jenis amplopnya beda. Muti juga enggak apal apa-apa
persyaratannya soalnya banyak.” balasku ketika ibuku menyuruhku untuk mencatat
apa-apa saja syarat yang diajukan. Aku berkata seperti itu bukan untuk
menghalangi-halangi tapi memang syarat itu memang banyak. Makannya tidak aku
catat dan terpaksa ku copy di USB. Tapi tampaknya bukan itu yang
diinterpretasikan oleh Ibuku. Ibuku terdengar kecewa dan marah padaku jadi ia
memutuskan perbincangan kami dengan cepat.
Perlu diketahui bahwa, keinginanku untuk menjadi
penulis sebenarnya adalah keinginan yang terpendam. Ketika diluar sana tidak ada
lagi yang bisa kujadikan pegangan, tulisanlah yang kupertaruhkan. Hanya aku dan
segelintir orang yang kupercayai, yang bisa kuceritakan apa sebenarnya yang
menjadi keinginanku. Ketika aku tidak bisa berbicara kepada siapapun seperti
ini, aku sangat berharap adikku ada di sampingku karena dia selalu bisa menjadi
orang kepercayaan, pendengar yang baik, dan tidak pernah menghakimi. Aku tahu
adikku selalu mendukung bagaimanapun jalan yang kupilih. Aku yang terlalu malu
untuk mengungkapkan ke orang tua mungkin menjadi salah satu kesalahanku. Tapi hanya
ada satu hal yang bisa membuatku bangkit kalau menulis adalah benar-benar
jalanku. Yang membuatku percaya diri adalah karyaku pernah diakui. Aku pernah
menjadi pemenang sebagai buku terbaik saat SMA, mengalahkan 70 orang teman-temanku
yang lainnya. Dan saat skripsi, dosen-dosenku mengatakan aku punya bakat
sebagai penulis. Meski
kata-kata harapan itu keluar bukan dari orang yang kuinginkan, yakni ibuku
tapi AKU PASTI BISA! KUBUKTIKAN
ITU!
Aku bukannya tidak percaya pada orang tuaku, tapi
mereka—terutama ibuku—selalu mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya
sebelum bertanya apa keinginan anaknya sehingga aku menjadi takut dan malu
untuk mengatakan apa yang ingin aku lakukan setelah lulus kuliah dan profesi
apa yang ingin kujadikan pekerjaan. Aku takut ibuku kecewa, sedih, dan
marah kalau mendengar anaknya ingin menjadi penulis profesional. Tapi kemarin, disaat
dirinya datang hanya untuk mendengarkan hasil dari pencarian internet tentang
alamat web pemerintah itu, aku sempat mengutarakan keinginan untuk mengirimkan salah
satu tulisanku—yang selama ini sudah sangat banyak di dalam laptop—ke penerbit.
Saat itu, ibuku terlihat terkejut tapi ekspresi dan nadanya tidak meragukan
seperti biasanya. Bahkan saat aku berkata itu lebih beresiko karena baru akan dibaca
oleh editor penerbit 3-4 bulan dan belum tentu diterima, ibuku malah berkata, ”
Coba aja. Kalau laku terjual salerynya kan banyak.”. Mendengar itu aku merasa
senang sekali! Aku seperti mendapatkan dukungan. Rasanya aku telah membuat kesalahan karena
menutupi apa yang menjadi cita-cita terpendamku kepada orang tuaku. Aku
menjadi semangat karena merasa keinginanku menjadi masuk akal di mata mereka.
Tapi, mendapatkan telepon di siang bolong dan berbicara tentang PNS, seperti di
tampar dan kembali ke nol lagi.
Ibuku yang memutuskan telepon lebih dulu dengan
nada sedih dan kecewa, membuatku kecewa dan sedih juga padanya. Setelah
berpikir beberapa menit sebelum curhat seperti ini, aku akhirnya mengirimkan pesan singkat ke ibuku dan
berkata, ”Muti ke warnet habis isya buat ngeprint CV”—yang selama ini telah ku
lamar sana-sini tanpa semangat.
Aku ingin membuat orang tuaku senang dan bangga
padaku. Tapi bisakah
mereka—terutama ibuku—bangga dan senang kalau aku menghasilkan sesuatu dari apa
yang aku suka? Apa aku termasuk anak tak tahu diri, egois, dan durhaka kalau
berpikiran seperti itu—meminta mereka untuk bersabar dan terus percaya kalau
aku bisa menjadi ’seseorang’ dengan pilihanku sendiri?
Aku suka menulis, bercerita dan berfantasi. Aku
ingin itu menjadi jerih payah layaknya pegawai negeri untuk menghidupkanku dan
orang-orang yang aku cintai.
Ketika hanya kata-kata yang bisa kupertaruhkan,
aku ingin membuktikan kalau aku bisa dan akan menjadi hebat dengan caraku
sendiri. Aku pasti bisa!
pasti bisa!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar