Sabtu, 09 Maret 2013

PAPANDAYAN: MOTHER NATURE & FRIENDSHIP

15 – 17 Februari 2013

Kami bersembilan, dua wanita dan sisanya pria, berencana menelusuri gunung yang kutahu tergeletak di wilayah Garut, Jawa Barat. Perjalanan yang kutempuh dari jam tujuh pagi untuk berkumpul di sekolah masa SMA tak melunturkan semangatku untuk mendaki. Di tambah lagi aku mendapatkan tenaga ketika melihat teman sekawan, yang kurindu, telah menanti.

Ready to climb, guys! ^ ^

Mereka sudah siap tempur, sementara aku siap untuk ’jalan-jalan’. Jins merah tua dan kemeja kotak-kotak tak pantas disebut sebagai kostum untuk mendaki gunung. Aku malu. Tapi semoga penampilanku tidak menghakimi pribadiku yang gemar menelusuri alam.

Sebuah mobil kapsul tua berwarna merah gelap akan menampung kami bersama barang bawaan. Terkejut juga memikirkannya, apakah muat? Tapi desakkan tubuh dan barang tak menyiksa kami, malah memberi suka. Saat itu aku duduk di bangku tengah, memaksa untuk menyempilkan pantatku yang kecil di antara ketiga pantat temanku yang besar. Untung saja tubuhku ramping (jika tidak ingin dibilang kurus).

 Kemudian pacuan pedal gas menghantar kami dengan cepat dan ganas, mengingat yang menyupir adalah temanku yang panasan. Tapi kami percaya karena tidak ada lagi yang sehandal dia untuk mengantar kami dengan cepat dan selamat pula. Posisi dudukku nyaris mendekati jendela sehingga aku tidak tahu rasanya duduk di tengah, dengan pandangan luas di depan sana. Pasalnya temanku, dan mungkin berzikir dalam hati, karena mampu melihat dengan jelas seberapa cepat supir kami menantang maut, hanya mampu memberikan cengir kuda.

Sudah mencapai kota Garut, kami menjemput tiga orang teman lagi. Kini bertambah kaum perempuan dua orang dan satu pria. Tidak banyak waktu, mengingat kondisi mobil sudah sumpek, kami memaksa berhempit lagi. Banyak yang jadi korban, salah satuya aku—duduk di tengah-tengah supir dan bangku sebelahnya, duduk di atas rem tangan, sementara (untungnya) pantatku yang kecil mampu nyempil di tengah jok. Tapi justru aku merasa senang. Mungkin karena euforia berpengalaman bersama teman sekawan.

Kami sedikit berintermezo selama perjalanan. Kami mengunjungi rumah teman kami untuk sekedar bersilaturahmi. Soalnya supir kami, yang sedari tadi kami sindir, dengan keputusan bersama, menemui teman wanita kami yang sedang digebetinya. Hanya sebentar, tak lebih dari 20 menit kurasa, kami pamit untuk melanjutkan petualangan. Teman wanita kami memberi restu, meski sebelumnya mengeluh untuk apa kami mengunjunginya.

Glad though crammed *LOL

Setelah itu ingatanku kabur karena suatu memoar memaksaku untuk menulis petualangan pertama kami yang kurasa tak terlupakan di episode ini. Kami sampai malam hari, tak mengetahui tepat kapan jamnya. Jalan yang kami susuri berlubang-lubang sementara mobil jenis kami tak sesuai dengan medannya. Meski temanku handal, disamping dinahkodahi oleh yang handal pula, jelas kami tidak boleh sembarangan mengambil jalan jika tidak ingin ban terperangkap. Tubuh kami bergoyang-goyang, terlempar ke sana kemari hingga suatu ketika nafas mobil kami sampai batasnya. Tercium aroma karet terbakar akibat ban mobil yang dipaksa memutar pada tanah yang amblas. Akhirnya kami terjebak. Semua turun dari mobil. Kaum pria berupaya mengangkat dua ban mobil yang terbenam di lumpur, sementara kaum wanita berdoa. Segala upaya kami tempuh mulai dari membuat jalan baru dari batu hingga mengangkat mobil dengan dongkrak yang ukurannya teramat kecil untuk mengangkat mobil kapsul kami. Akhirnya kami memikirkan kemungkinan terburuk. Terpaksalah kami akan menginap di mobil atau memasang tenda di tengah jalan gelap, jika mobil ini tak kunjung berjalan. Semoga tidak bertambah kisah ini dengan turunnya air hujan dan petir menyambar-nyambar.
Ouch! Trapped!

Selagi semangat belum padam, beberapa pendaki terlihat di ujung jalan yang gelap. Mereka memberi kode layaknya bersiul dan aku ingat, aku menyahut kode itu dengan gaya yang serupa. Tampak dari sekawanan kami yang sedang kesusahan sehingga para pendaki itu menawarkan bantuan. Ini adalah pelajaran pertamaku bahwa betapa ramah dan penolongnya mereka. Betapa kami saling menghormati dan menghargai satu sama lain ketika berpapasan. Mungkin telah sadar bahwa kami bukanlah apa-apa di alam dan tak sepantasnya menyombongkan diri. Berkat upaya pendaki itu, mobil kami akhirnya mampu lepas dari ikatan lumpur. Tak peduli seberapa kotor baju kami, kami senang luar biasa. Setelah berterimakasih ria, jalan yang telah menjebloskan kami itu, kami tutupi dengan bebatuan agar tak timbul korban kedua.

Mungkin kupikir agar tak membenani mobil yang kini mulai melaju di jalan ancur, para wanita diputuskan untuk menaiki mobil sementara beberapa teman-teman laki-laki mendaki sendirian ke atas. Kami yang di dalam berpamitan dan mengucapkan terimakasih sekali lagi kepada para pendaki yang menyingkirkan diri untuk mempersilahkan mobil kami lewat.
 Kini teman kami yang menyupir, dengan nahkodanya lebih hati-hati. Namun lebih ganas pula menginjak gasnya. Karena wanita adalah kaum lemah, kami hanya bisa menjerit-jerit ria ketika mobil menghempas kami ke sana-kemari. Aku salah satunya tapi aku ingat aku lebih menutup mata kala itu.

Akhirnya kami melihat sebuah potral tanpa penjaga. Dua orang teman laki-laki kami yang lebih dulu sampai membuka portal untuk kami. Cahaya mobil memberikan penerangan padaku dan melihat sejumlah warung yang masih hidup. Mobil kami terpakir dan kuingat tak butuh waktu lama bagi kami untuk meminta pesanan hangat ke warung. Ibu warung yang masih muda dengan seorang anak bernama Dila menyambut kami. Saat itu sudah tengah malam dan kami putuskan untuk menginap di warung si ibu warung—yang sebelumnya telah memberi tahu tidak diizinkan mendaki setelah jam lima sore akibat kabut—sebelum mendaki besok. Mau tak mau kami bermalam dan mau tak mau kami merepotkan si ibu warung yang terpaksa tidak tidur untuk memenuhi berbagai kebutuhan kami yang kelaparan dan kedinginan.

Puncak dingin datang pukul dua atau tiga pagi semantara saat tengah malam aku sudah mengigil. Setelah memberanikan diri untuk berwudhu dan shalat, aku bersama teman-teman yang lain membuat lingkaran di dipan belakang. Dengan bermodalkan satu lilin yang berharap mampu menghangatkan kami, kami mulai berkisah. Cerita kami sok pintar dan sok bijak tapi berdiskusi membuat pengetahuanku meningkat. Kemudian cerita kami mulai melantur. Satu teman kami sepertinya tak mampu membendung keresahannya sehingga selama berjam-jam kami sabar mendengarnya. Kami sanggup dan kami peduli. Kami prihatin dan semoga curhat tengah malamnya itu mampu meringkankan beban dipundaknya.

Malam kian terasa larut dan dingin. Satu persatu temanku tewas dan memutuskan untuk tidur. Kami mengatur posisi. Ditengah kelelapan malam, aku dan teman wanitaku yang belum mengantuk berbincang lebih jauh. Kami curhat. Selayaknya wanita, meski berbisik, tetap saja suara kami nyaring. Akhirnya sampai tiba waktunya mendaki, kami berdua tidak tidur sama sekali.

Kami mulai mempesiapkan diri. Mobil terparkir dengan apik bersama mobil pengunjung yang lain. Sebelumnya, kami bergaya dulu sebelum mendaki. Setelahnya satu persatu dari kami mulai melangkah. Taburan batu-batu dan kerikil menyambut jalan kami. Kami pun disuguhi pemandangan indah dengan tebing tinggi menjulang sehabis terkikis hujan atau mungkin longsor hebat... atau mungkin eksploitasi habis-habisan.

Langit luas terpampang di atas kami dengan aroma hijau pegunungan. Kami berfoto ria, khususnya kami para wanita yang kegirangan. Tentu kami memiliki seksi dokumentasi tapi kami belum puas jika kamera pribadi tidak menangkap momen ini. Kami melanjutkan langkah dan disambut oleh gumpalan asap yang pahit mencapai tenggorokkan. Asap belerang menggerumuni kami. Tapi tenang, kami siap tempur. Kami menutup hidung kami dengan sapu tangan, yang sayangnya tak kubawa sehingga terpaksa aku meminjam. Sekali lagi, kami ingin mengabadikan asap itu di foto-foto kami.

Perjalanan kami mulai naik dan inilah yang namanya mendaki. Jalan yang kami ambil adalah jalan pintas agar cepat sampai. Bumi tak landai dan penuh dengan batu-batu besar. Jika tidak hati-hati kami bisa terpeleset dan menggelinding ke bawah. Beberapa dari kami pemula sehingga yang mahir mengkhawatirkan nasib kami. Kami banyak istirahat dan makin banyak juga capainya. Akhirnya kami mencapai puncak bebatuan. Beberapa teman yang sudah sampai menunggu kami sembari istirahat. Pemandu yang kebetulan teman kami pula, mengatakan jalan didepan sudah landai dan menyuruh kami untuk bergegas. Kami berdiri mengumpulkan tenaga dan dengan nafas tersisa berjalan melangkah lagi.
We are so small in nature

Aku merasa seperti Alice in Wonderland. Alam yang kami masuki berbeda dari sebelumnya. Kami berada di hutan mati sekarang. Kawah putih mematikan tumbuh-tumbuhan sehingga batang dan ranting pohon yang kering datang menyambut kami. Pohon-pohon itu mati, kaku, hitam tapi indah secara bersamaan. Sekali lagi, kami ingin mengabadikan pemandangan kawah putih dengan pohon mati itu di memory foto kami.

keep smile :)

Kami berjalan lagi menelusuri batu landai. Terputus-putus, aku berjalan bersama dengan seorang teman. Dia menjelaskan padaku tentang bunga Adelwise. Seketika di kepalaku tergambar bunga Dandelion yang tentunya jelas salah. Bunga Adelwise adalah bunga abadi, yang tumbuh hanya di satu tempat. Jika kita memiliki bunga Adelwise, itu bukti bahwa kita telah mendaki ke puncak tertinggi dari gunung. Tapi tentu, sudah menjadi kode etik untuk tidak mengambil apapun dari pegunungan (Iya ’kan teman-teman?). Bunga Adelwise tidak bisa mati. Kalaupun layu bunga itu hanya kering dengan bentuk sebagaimana ia mekar. Bunga yang cantik dan tegar.

Setelah melewati taman Adelwise, kami akhirnya sampai ke tanah perkemahan. Hanya saja aku dan beberapa temanku sial karena melewati rawa-rawa sehingga terpaksa kami mengorbankan celana dan sepatu kami dengan lumpur. Kami tidak tahu kalau ada jalan memutar tanpa harus mencebur diri ke rawa. Kami tidak sendiri di tanah perkemahan. Telah ada beberapa dari para pendaki yang telah memasang tenda. Lapangan terbuka lebar, tapi kami tidak memilih di sana. Tenda kami terpasang di antara semak-semak dan pohon-pohon. Itu siasat kami agar terhindar dari angin kencang, dan pohon-pohon akan membantu kami menyerap air jika turun hujan lebat.

Para pria memasang tenda dan para wanita memasak. Makanan pembuka kami tiba di tanah berkemah adalah mie dan nasi. Hanya seadanya tapi kami merasa cukup. Setelahnya kami istirahat. Aku tidak ingat apa-apa. Karena aku tidak tidur sama sekali, tubuhku terasa letih dan aku tertidur di dalam tenda. Aku dan temanku terbangun satu jam kemudian tapi tubuh kami merasa bugar. Kami terbangun karena hujan lebat menggoyang-goyangkan tenda kami. Kami ingin membantu ketika melihat teman laki-laki sedang berupaya mempertahankan tenda. Tapi kami dilarang keluar, takut bantuan kami malah merepotkan.

Tidak ada yang bisa kami lakukan sepanjang hari akibat turun hujan dan kabut. Kami hanya berdiam di tenda, memasang api unggun, berusaha menghangatkan badan. Para wanita memutuskan untuk berganti baju di dalam tenda agar saat malam hari terasa lebih hangat. Saat sore hari, kami mencoba memasak. Tapi kami mendapatkan accident di makanan kami. Sudah semangat sekali kami memasak karena aromanya nikmat. Tapi begitu dirasa, rasanya aneh dan pahit. Kami curiga bumbu mie ijo menjadi pelaku atau kami salah menggunakan air murni dengan air metanol untuk merebus. Mau tak mau makanan yang aromanya sudah nikmat itu kami buang dan kami membuat menu baru. Si ijo telah membuat kami trauma. Dan kami pun punya menu favorit baru, yaitu dinamit (seenaknya saja kami menyebutnya begitu karena rasanya mengingatkan kami seperti permen dinamit. Itu racikan khusus teman kami dari tolak angin di campur susu).

Racik meracik! Enak enggak enak, makan aja... :D

Menjelang malam, sebagian dari kami sudah tertidur dari sore. Alhasil hanya 6 orang yang bertahan untuk berbincang. Temanku si bolang, sedari sore mempertahankan api agar membesar, agar saat malam puncak nanti kami cukup hangat. Di tengah kobaran api, kami bercanda ria. Tapi moment ini dimanfaatkan salah satu temanku untuk curhat. Dan tentunya ia memanfaatkan aku yang memiliki title Sarjana Psikologi untuk memberikannya saran. Tapi angin dingin sulit membuatku konsentrasi dan berharap saran yang diberikan cukup ampuh baginya. Meski angin malam berhembus kuat dan dinginnya menusuk, kami masih semangat. Tapi badanku yang ringkih akhirnya menyerah. Ku selipkan kakiku di salah satu paha temanku sebelum aku memutuskan untuk tidur. Sayang sekali, saat itu belum tengah malam dan aku tertidur ketika teman-teman yang lain malah bangun untuk bercerita-cerita. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat tertidur. Yang pasti dengan meminjam jaket teman, aku meringkuk dengan teman wanita di dalam sleeping bag. Sudah dua lapis masih saja aku menggigil. Sayup-sayup aku mendengar teman-teman bercanda gurau di luar dan kemudian aku tertidur lelap.

Aku bangun esok paginya. Matahari sudah mengintip di balik gunung ketika dengan mata berat aku berusaha membuka mata. Teman-teman yang sudah dari pagi bangun memutuskan untuk menyambut sunrise tapi balik lagi karena kabut masih tebal. Kami sarapan bersama kemudian. Sedikit-sedikit kami bereksperimen dengan bahan makanan yang kami bawa. Untungnya enak! Menjelang siang kami masih makan. Tak lupa lagu diputar dari BB untuk meriahkan suasana. Kami bernyanyi bersama sembari bebenah sedikit.

Akhirnya waktu pulang tiba. Tenda-tenda mulai dilipat dan sampah-sampah bekas kami bakar. Setelah siap kami melingkar, mengucap doa perpisahan agar turun gunung dengan selamat. Kami menelusuri jalan serupa, kecuali untuk jalan melintasi rawa. Tidak ingin basah, kami jalan memutar. Cukup licin karena lumpur putih memenuhi telapak sepatu sendal kami. Selama perjalananpun kami menjumpai sekumpulan pendaki yang memutuskan pulang juga seperti kami. Selagi mereka lebih memilih jalan memutar, kami menuruni bukti yang cukup terjal dengan menggunakan tali untuk turun. Kami bertemu dengan orang asing yang membawa anjing untuk mendaki. Melihat orang asing itu sungguh terheran-heran. Ia menggunakan leging dan hotpants. Entah terlalu santai atau baginya medan ini tak cukup menantang untuknya sehingga ia memakai pakaian selayaknya mau ke Mall.

Kami kembali berjalan turun. Langit tampak mendung sehingga mereka yang didepan mempercepat langkah. Aku sedikit tertinggal dibanding yang lain. Bersama dua orang yang lain, kami bagai ekor. Ketika tak melihat sosok teman-teman, aku sedikit berkode tapi tidak ada jawaban. Perasaanku kami tertinggal cukup jauh. Kami mempercepat langkah ketika nafas kami sudah segaris. Ketika melihat sosok mereka yang sedang menunggu sembari bersantai, aku lega. Aku meminta izin untuk istirahat selama dua menit tapi begitu pantatku menempel tanah, temanku si bolang meminta kami bergegas. Wajar saja meningingat langit makin mendung sementara kami masih setengah jalan. Khawatir langkah kami akan licin karena hujan, kami begegas dua kali lipat.

Aku tidak mau lagi tertinggal karena aku tidak pandai membaca arah. Jadi aku melangkah cukup cepat dan tak berhenti untuk istiriahat atau berfoto-foto. Untungnya kami sudah mencapai tempat parkir sehingga kami langsung mempercepat langkah untuk menaru tas segera ke dalam mobil. Begitu berat beban tas dipundakku, ketika ku letakan tas itu di mobil, aku merasa melayang. Langkahku ringan begitu kuhampiri warung si ibu. Si ibu yang ramah menyambut kami ketika kami meminta sedikit air. Kami bersinggah sejenak sebelum berkendara pulang.

Sedikit ada yang usil ketika kami beristirahat. Salah satu pendaki menggodaku dan teman-teman mengecengiku. Untungnya tidak berlarut-larut karena akupun tidak meladeni. Setelah memaksa masuk tas-tas kami ke dalam mobil, beberapa dari kami berhempitan lagi, sementara aku dan salah satu temanku berpamit untuk pulang ke si ibu warung. Kami bersalaman dan menitipikan uang jasa inap bekas semalam. Si ibu warung pun menunggui kami hingga mobil kami melangkah keluar.

Jalan tentu tak berubah beraspal dalam semalam sehingga kami di hantar pulang dengan jalan bergeol-geol. Lamanya perjalanan membuat kami lapar sehingga saat matahari pamit undur diri, kami pergi mencari makan. Setelahnya, tentunya, kami melanjutkan perjalanan untuk pulang. Aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Tampaknya akibat kenyang aku jatuh tertidur. Aku dibangunkan ketika ketiga orang kami, yang dari Jakarta, pamit turun di bahu jalan tol untuk menunggu angkutan umum. Kami berdadah-dadah sembari menyelipkan harapan akan kita berjumpa lagi di lain waktu. Tapi kami memutar balik lagi saat sudah cukup jauh karena ada barang yang tertinggal. Aku tidak bisa bilang barang apa itu karena sebelumnya telah kuberi tahu telah menjadi kode etik untuk tidak membawa apa-apa dari alam (begitu abstrak dan berharap hanya sedikit yang mengerti). Salah satu teman wanita kami berkaca-kaca matanya, terharu melihat kami rela berputar lagi untuk mengantarkan barang yang tertinggal itu.

The Girls

Kami menelusuri langit Garut yang malam hingga akhirnya sampai juga di Bandung. Aku rakyat Sukabumi dan berhubung sudah malam, aku memutuskan untuk menginap di rumah teman dan pulang besok. Setelah kami membereskan barang-barang ke tempat kami kumpul pertama kali, aku dan teman wanitaku yang tersisa dihantar ke rumah teman wanitaku yang lain untuk menginap. Tentunya, setelah akhirnya bertemu dengan kasur, bantal, dan selimut, tidur malam kali ini menjadi teramat berbeda dibanding dua malam sebelumnya.

Tiga hari dan dua malam yang singkat. Itulah memoarku tentang perjalanan kami ke Papandayan, yang tentunya termemoarkan secara berbeda dari sudut pandang temanku yang lain. Hanya satu hal yang kuyakini benar di sini... berharap sekali lagi sebelum akhirnya menyudahi... betapa alam dan kawan, menjadi kolaborasi yang indah dan menyenangkan untuk kembali di jalani []


Tag in:
Adam, Husein, Rifki, Hanif, Jae, Vina, Ani, Joni, Muti, Mail, Diya, + Firzal

2 komentar:

ini bukan adam mut mengatakan...

Tidak diceritakan disini kalo kamu mendaki bareng seorang model mut..

Emang beneran lo sempet digodain waktu lagi di warung si ibu? Haha gw gak denger ceritanya

m u t i a mengatakan...

hahahah model shampo yaa dam?? iy y, padahal foto lw udah keren ya dengan rambut berkibar-kibar. maaf deh dam... klo gw cerita n gw pasang foto lw, gw takut blog gw kena virus. piss:p
hhe, iya dam... mas-mas tengil gitu. BT. diemin aja dah udah... wkwkw. blog lw apa deh dam? punya g?