Rabu, 24 April 2013

The Unforgetable is The First Love

20 Februari 2013.


Aku terduduk di tengah-tengah kerumunan. Mereka membicarakan sesuatu ketika pikiranku melayang entah kemana. Aku terhampit diantara dua teman laki-laki yang kutahu mereka adalah Randy dan Fikri. Mereka sedang tertawa bersama dengan teman-teman lainnya. Yang membuatku tidak percaya adalah aku berada di lingkungan itu bersama mereka. Sedang apa aku disana? Apakah aku sedang ditertawakan? batinku. Sungguh tidak masuk akal aku duduk bersama teman-teman populer. Mungkin itu yang aku pikirkan—ketika pikiranku melayang—saat Randy dengan ejekannya yang kutahu menyebalkan melemparkan perhatiannya padaku untuk mempermalukanku.
”Mut, katanya loe suka sama Fikri, ya?” tanya Randy tiba-tiba. Aku menoleh padanya cepat dan melihat mimik wajahnya, dengan kawat memenuhi giginya, menyeringai ke arahku. Dia mengejekku.
”Enggak! kata siapa?” elakku ketus. Tapi jawabanku justru membuat semua yang ada di sana, tak terkecuali Fikri yang sedang dibicarakan, semakin tertawa terbahak-bahak.
”Serius, Mut, suka sama gue?” pertanyaan itu terlontar. Fikri—yang tidak kumengerti justru duduk dibelakangku, yang badanku seakan terbungkus di antara kedua kakinya—bertanya dengan mata dan bibir mencibir. Ekspersi itu juga aku kenal. Ia sedang meladeni ejekan Randy. Dia turut mengejekku.
”Enggak, kok!” jawabku makin ketus dan judes. Ku alihkan kepalaku dengan kesal dan kudengar lagi teman-teman menertawaiku. Aku memaki dalam hati. Aku tidak suka!
Aku rasa saat itu waktu berjalan begitu cepat. Aku tidak tahu apa yang terjadi karena aku merasakan tubuh Fikri tertumpu pada punggungku yang membelakanginya. Aku terhenyak, terkejut ketika Fikri membisikan sesuatu ke telingaku, ”kita jadian, yuk!”
Kepalaku teralih lagi dengan cepat—secepat aku melihat tembakan anak panah yang melesat ke horizontal. Alih-alih terkejut dengan ajakannya, aku menunjukan ekspresi tidak masuk akal. Aku mulai berpikir kalau Fikri aneh. Aku jelas tahu bahwa Fikri tidak menyukaiku. Di lihat dari teman-teman wanitanya yang oke punya, aku jauh di bawah standar. Tapi tampaknya aku tidak punya kuasa. Setelah melihat senyumnya itu, yang berada di antara ejekan, dengusan, dan hinaan, aku malah menerimanya. Aku jadi pacarnya sekarang.
Kemudian waktu berjalan begitu cepat hingga aku tidak menyadari keadaan sudah berubah. Tidak ada Randy dengan kawat giginya. Tidak ada teman-temannya yang tertawa mengejekku. Yang ada hanya aku dan Fikri. Hanya aku dan dia.
Aku semakin tidak percaya ketika dengan terburu-buru aku masuk dari sebuah pintu, mengkhawatirkan hal yang menurutku sangat konyol. Aku takut Fikri marah karena janji temu sudah lewat dari batasnya. Bisa dibilang, ini adalah pertemuan pertama kami semenjak kami pacaran maka aku merasa Fikri akan marah kalau aku telat. Tapi selagi aku terburu-buru sembari memeriksa waktu, pikiranku melayang lagi entah kemana. Rasanya kakiku bergerak sendiri sementara otakku memikirkan kemustahilan.
Aku dan Fikri adalah teman—walau sebenarnya tidak demikian—sejak kami bertemu di taman kanak-kanak. Aku ingat saat itu, meski kanak-kanak, Fikri adalah pria kecil yang tampan. Kami masih kecil. Umurku baru 5 tahun tapi aku tahu arti suka. Aku suka Fikri. Semenjak itu aku selalu melihat Fikri dengan diam-diam. Bahkan sampai sekarang, diam-diam aku memiliki fotonya, yang berwajah mungil dan luka di hidung akibat kenakalan masa kecil. Foto itu diberikan oleh temanku, Iqa, yang ternyata mengetahui perasaanku terhadap Fikri. Ku selipkan foto pemberian saat SD itu di sebuah diari berwarna ungu dengan sampul keledai temannya Winnie the Pooh, kartun favoritku.
Diariku adalah perjalanan usiaku bersamaan dengan perasaanku terhadap fikri yang sama sekali tidak berubah. Ketika belum mampu menulis, aku hanya menjadikan diariku sebagai selipan untuk foto fikri. Ketika sudah mampu menulis, dengan tulisan acak kadul, kujadikan diariku tempat bernaung, sambil menatap fotonya dan menulis ketidaksanggupan, ketidakberdayaan mengungkap rasa cinta.
Satu taman kanak-kanak beranjak menjadi satu sekolah dasar. Aku dan fikri berada di satu gedung selama 6 tahun. Selama itu pula aku menjadi tahu dan sadar bahwa aku tidak berada di arah pandangnya. Fikri yang tampan lantas populer dan dikelilingi oleh teman-teman yang asik. Sementara aku, hanya seorang anak kurus, hitam, rambut tipis dengan jidat lebar yang duduk memojok tak terlihat. Aku ingat ketika puncak kelas, aku sekelas dengan Fikri. Bersama Randy, ia senang mengejekku. Aku tidak berpikir bahwa aku konyol untuk ditertawakan tapi ketidaksadaranku bahwa aku bukanlah siapa-siapa, yang mencoba membaur dengan anak populer, justru menjadi senjata makan tuan. Bahkan kedua sahabatku, Amel dan Amanda, yang berniat menghiburku, keprihatinan mereka malah menjadi bahan ejekan baru. Semenjak itu, Amel dan Amanda tidak lagi membantu karena mereka tahu semakin aku ditolong, semakin aku diejek oleh Randy dan Fikri. Itulah bentuk kepedulian Amel dan Amanda untukku.
Menjadi siswa kelas 6 SD yang tidak populer dan justru jadi populer karena di ejek sangat tidak menyenangkan. Ini jauh dari harapanku—harapan untuk dekat dengan Fikri. Bukan dengan cara seperti ini. Aku tidak ingin dekat dengan Fikri sebagai bahan ejekan. Akhirnya aku malah menjadi kesal setengah mati. Aku marah, terutama pada Fikri. Tapi aku tidak bisa mendendam. Tidak bisa aku membuang perasaan suka itu—sejak kami di taman kanak-kanak—semudah membuang bungkusan permen ke tempat sampah. Lagi-lagi, kupendam perasaan luka dan cinta itu di dalam hati. Lagi-lagi, diari unguku menjadi tempat bernaung.
Beranjak SMP, setelah satu taman kanak-kanak dan satu sekolah dasar, aku satu gedung lagi dengannya. Meski satu gedung, aku bersyukur tidak satu kelas dengan Fikri—tidak pernah sekalipun selama tiga tahun masa sekolah menengah pertama kami. Lagipula, perhatianku lebih teralih kepada hal yang lain. Fikri tidak lagi menjadi fokus utama. Kini aku menjadi mahir untuk menentukan prioritas. Aku belajar, berteman, ikut kegiatan ekstarakulikuler dan alhasil aku menjadi peringkat pertama dua kali berturut-turut ketika penutupan kelas. Aku tidak tahu bagaimana Fikri saat itu. Karena beda kelas aku jadi tidak tahu kabarnya. Yang aku tahu bahwa tulisan tangan Fikri bagus. Saat itu aku sedang membantu guru mengangkat tumpukan buku dari kelas sebelah dan melihat buku Fikri di tumpukkan pertama. Rasa penasaran muncul di benakku. Ingin ku lihat bagaimana rupanya. Kubuka sampul buku itu dan terkejut tak terkira. Baru pertama kali aku melihat tulisan anak laki-laki indah seperti kaligrafi. Keputusanku untuk tidak lagi peduli, mendadak luntur ketika melihat tulisanya. Ternyata, tetap saja, tidak mudah menghilangkan Fikri begitu saja.
Beranjak SMP ke SMA aku sama sekali tidak tahu kabarnya. Aku juga tidak mencari tahu. Aku semakin sadar bahwa sudah saatnya untuk melanjutkan hidup—itu artinya mencari ’laki-laki’ yang baru. Aku menuntut ilmu di luar kota sementara Fikri.... aku tidak tahu. Sekali lagi, aku tidak tahu kabarnya jadi aku tidak tahu dimana ia berada. Aku juga tidak peduli karena aku bahagia sekarang. Aku memiliki pacar, aku—katanya—populer, aku pintar, dan aku aktif berorganisasi. Sungguh, masa SMA adalah masa jayaku. Kututup ingatan tentang Fikri dengan suatu kenangan... kenangan yang tidak menyenangkan, yaitu ketika ia mengejekku bersama Randy saat kelas 6 SD. Itulah Fikri yang aku tahu. Itulah Fikri yang aku ingat. Itulah Fikri, cinta pertamaku.
Oleh karena itu, aku bingung, kenapa aku bisa berada disituasi di mana aku berlari mengejar waktu dan takut Fikri akan marah dipertemuan pertama kami selama jadian. Kakiku bergerak sendiri ketika memasuki sebuah pintu toko, yang kuingat adalah toko baju. Dan kulihat Fikri sedang memperhatikan jas hujan berwarna hijau dibalik etalase. Aku menatapnya datar ketika ia melihat ke arahku dan siap marah padaku. Alih-alih menghampirinya aku malah diam di tempat. Fikri menghampiriku dengan berdecak dan anehnya meminta handphoneku. Aku menatapnya heran dan curiga tapi tetap kuserahkan handphoneku padanya. Betapa terkejutnya aku ketika kuulurkan tanganku padanya dan ia menarik lenganku. Ia memelukku dan mencium atas kepalaku. Ia membisikkan sesuatu yang tidak bisa kutangkap. Jantungku berdebar-debar tapi dalam hati aku bertanya-tanya, benarkah ini Fikri? Fikri yang aku sukai dari usiaku 5 tahun, yang selama bertahun-tahun ia bahkan tidak tahu aku ada dan hanya bisa mengejekku ketika melihatku? Seharusnya aku merasa senang tapi perasaan heran dan tidak masuk akal lebih mendominasi sehingga aku tidak bisa menikmati pelukan Fikri.
Setelah Fikri tampaknya puas memelukku, ia melepasku dan bertumpu pada etalase sembari memainkan handphoneku. Ia tersenyum, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, seolah-olah dia bahagia saat berbincang denganku ketika aku justru malah menatapnya datar. Dan ketika itu... Fikri menghilang.
Fikri hilang bagai debu yang diterbangkan oleh angin. Aku tersentak dan mataku terbuka. Aku merasakan kepalaku pening luar biasa dan kusadari ternyata aku menggigil. Aku tidak berselimut diri sementara angin pagi berhembus bebas melalui jendela. Ku perhatikan jam menunjukkan pukul 6 pagi. Aku menghembuskan nafas berusaha menghilangkan rasa pening setelah Ibu menyuruhku untuk berwudhu. Aku beranjak dari kasur dan merasakan lantai sedingin es. Basuhan air wudhu menggiringku ke sajadah untuk shalat subuh. Ku sembah Tuhan Yang Maha Kuasa. Kuberikan salam sebagai penutup ibadahku. 
Sadar bahwa itu semua hanya bunga tidur, aku mensyujudkan diri, menumpukkan keningku yang lebar ke atas sajadah lagi untuk bersyukur.
Dalam gumaman aku berbisik. Mimpi ini telah menghadirkan seseorang yang diam-diam kuinginkan hadir lagi dalam bentuk apapun. Mimpi ini membuatku hangat sepanjang hari. Mimpi ini—kuputuskan untuk—menjadi ingatan terakhir tentang dia yang kutahu menyebalkan. Mimpiku kali ini adalah tentang Brahmantyo Fikri yang kutahu darinya hanyalah dua hal: nama panjangnya dan ulang tahunnya yang bertepatan pada malam natal. Mimpi ini tentang kasih tak sampai, tentang cinta pertama yang entah kapan akan terlupakan...

Tidak ada komentar: