20 Februari 2013.
Aku terduduk di tengah-tengah
kerumunan. Mereka
membicarakan sesuatu ketika pikiranku melayang entah kemana. Aku terhampit
diantara dua teman laki-laki yang kutahu mereka adalah Randy dan Fikri. Mereka
sedang tertawa bersama dengan teman-teman lainnya. Yang membuatku tidak percaya
adalah aku berada di lingkungan itu bersama mereka. Sedang apa aku disana?
Apakah aku sedang ditertawakan? batinku. Sungguh tidak masuk akal aku duduk
bersama teman-teman populer. Mungkin itu yang aku pikirkan—ketika pikiranku
melayang—saat Randy dengan ejekannya yang kutahu menyebalkan melemparkan perhatiannya
padaku untuk mempermalukanku.
”Mut, katanya loe suka sama Fikri, ya?” tanya
Randy tiba-tiba. Aku menoleh padanya cepat dan melihat mimik wajahnya, dengan
kawat memenuhi giginya, menyeringai ke arahku. Dia mengejekku.
”Enggak! kata siapa?” elakku ketus. Tapi jawabanku
justru membuat semua yang ada di sana, tak terkecuali Fikri yang sedang
dibicarakan, semakin tertawa terbahak-bahak.
”Serius, Mut, suka sama gue?” pertanyaan itu
terlontar. Fikri—yang tidak kumengerti justru duduk dibelakangku, yang badanku
seakan terbungkus di antara kedua kakinya—bertanya dengan mata dan bibir
mencibir. Ekspersi itu juga aku kenal. Ia sedang meladeni ejekan Randy. Dia turut
mengejekku.
”Enggak, kok!” jawabku makin ketus dan judes. Ku
alihkan kepalaku dengan kesal dan kudengar lagi teman-teman menertawaiku. Aku memaki
dalam hati. Aku tidak suka!
Aku rasa saat itu waktu berjalan begitu cepat. Aku
tidak tahu apa yang terjadi karena aku merasakan tubuh Fikri tertumpu pada
punggungku yang membelakanginya. Aku terhenyak, terkejut ketika Fikri membisikan
sesuatu ke telingaku, ”kita jadian, yuk!”
Kepalaku teralih lagi dengan cepat—secepat aku
melihat tembakan anak panah yang melesat ke horizontal. Alih-alih terkejut
dengan ajakannya, aku menunjukan ekspresi tidak masuk akal. Aku mulai berpikir
kalau Fikri aneh. Aku jelas tahu bahwa Fikri tidak menyukaiku. Di lihat dari
teman-teman wanitanya yang oke punya, aku jauh di bawah standar. Tapi tampaknya
aku tidak punya kuasa. Setelah melihat senyumnya itu, yang berada di antara
ejekan, dengusan, dan hinaan, aku malah menerimanya. Aku jadi pacarnya
sekarang.
Kemudian waktu berjalan begitu cepat hingga aku
tidak menyadari keadaan sudah berubah. Tidak ada Randy dengan kawat giginya.
Tidak ada teman-temannya yang tertawa mengejekku. Yang ada hanya aku dan Fikri. Hanya aku dan dia.
Aku semakin tidak percaya ketika dengan
terburu-buru aku masuk dari sebuah pintu, mengkhawatirkan hal yang menurutku
sangat konyol. Aku takut Fikri marah karena janji temu sudah lewat dari
batasnya. Bisa dibilang, ini adalah pertemuan pertama kami semenjak kami
pacaran maka aku merasa Fikri akan marah kalau aku telat. Tapi selagi aku
terburu-buru sembari memeriksa waktu, pikiranku melayang lagi entah kemana.
Rasanya kakiku bergerak sendiri sementara otakku memikirkan kemustahilan.
Aku dan Fikri adalah teman—walau sebenarnya tidak
demikian—sejak kami bertemu di taman kanak-kanak. Aku ingat saat itu, meski kanak-kanak, Fikri
adalah pria kecil yang tampan. Kami masih kecil. Umurku baru 5 tahun tapi aku
tahu arti suka. Aku suka Fikri. Semenjak itu aku selalu melihat Fikri dengan
diam-diam. Bahkan sampai sekarang, diam-diam aku memiliki fotonya, yang
berwajah mungil dan luka di hidung akibat kenakalan masa kecil. Foto itu
diberikan oleh temanku, Iqa, yang ternyata mengetahui perasaanku terhadap
Fikri. Ku selipkan foto pemberian saat SD itu di sebuah diari berwarna ungu
dengan sampul keledai temannya Winnie the
Pooh, kartun favoritku.
Diariku adalah perjalanan usiaku bersamaan dengan
perasaanku terhadap fikri yang sama sekali tidak berubah. Ketika belum mampu
menulis, aku hanya menjadikan diariku sebagai selipan untuk foto fikri. Ketika
sudah mampu menulis, dengan tulisan acak kadul, kujadikan diariku tempat bernaung, sambil menatap fotonya dan menulis ketidaksanggupan, ketidakberdayaan
mengungkap rasa cinta.
Satu taman kanak-kanak beranjak menjadi satu
sekolah dasar. Aku dan fikri berada di satu gedung selama 6 tahun. Selama itu
pula aku menjadi tahu dan sadar bahwa aku tidak berada di arah pandangnya. Fikri yang tampan lantas populer dan
dikelilingi oleh teman-teman yang asik. Sementara aku, hanya seorang anak
kurus, hitam, rambut tipis dengan jidat lebar yang duduk memojok tak terlihat.
Aku ingat ketika puncak kelas, aku sekelas dengan Fikri. Bersama Randy, ia
senang mengejekku. Aku tidak berpikir bahwa aku konyol untuk ditertawakan tapi
ketidaksadaranku bahwa aku bukanlah siapa-siapa, yang mencoba membaur dengan anak
populer, justru menjadi senjata makan tuan. Bahkan kedua sahabatku, Amel dan
Amanda, yang berniat menghiburku, keprihatinan mereka malah menjadi bahan
ejekan baru. Semenjak itu, Amel dan Amanda tidak lagi membantu karena mereka
tahu semakin aku ditolong, semakin aku diejek oleh Randy dan Fikri. Itulah
bentuk kepedulian Amel dan Amanda untukku.
Menjadi siswa kelas 6 SD yang tidak populer dan
justru jadi populer karena di ejek sangat tidak menyenangkan. Ini jauh dari
harapanku—harapan untuk dekat dengan Fikri. Bukan dengan cara seperti ini. Aku
tidak ingin dekat dengan Fikri sebagai bahan ejekan. Akhirnya aku malah menjadi
kesal setengah mati. Aku
marah, terutama pada Fikri. Tapi aku tidak bisa mendendam. Tidak bisa aku
membuang perasaan suka itu—sejak kami di taman kanak-kanak—semudah membuang
bungkusan permen ke tempat sampah. Lagi-lagi, kupendam perasaan luka dan cinta
itu di dalam hati. Lagi-lagi, diari unguku menjadi tempat bernaung.
Beranjak SMP, setelah satu taman
kanak-kanak dan satu sekolah dasar, aku satu gedung lagi dengannya. Meski satu
gedung, aku bersyukur tidak satu kelas dengan Fikri—tidak pernah sekalipun
selama tiga tahun masa sekolah menengah pertama kami. Lagipula, perhatianku
lebih teralih kepada hal yang lain. Fikri tidak lagi menjadi fokus utama. Kini
aku menjadi mahir untuk menentukan prioritas. Aku belajar, berteman, ikut
kegiatan ekstarakulikuler dan alhasil aku menjadi peringkat pertama dua kali
berturut-turut ketika penutupan kelas. Aku tidak tahu bagaimana Fikri saat itu.
Karena beda kelas aku jadi tidak tahu kabarnya. Yang aku tahu bahwa tulisan
tangan Fikri bagus. Saat itu aku sedang membantu guru mengangkat tumpukan buku
dari kelas sebelah dan melihat buku Fikri di tumpukkan pertama. Rasa penasaran
muncul di benakku. Ingin ku lihat bagaimana rupanya. Kubuka sampul buku itu dan
terkejut tak terkira. Baru pertama kali aku melihat tulisan anak laki-laki
indah seperti kaligrafi. Keputusanku untuk tidak lagi peduli, mendadak luntur
ketika melihat tulisanya. Ternyata, tetap saja, tidak mudah menghilangkan Fikri
begitu saja.
Beranjak SMP ke SMA aku sama sekali
tidak tahu kabarnya. Aku juga
tidak mencari tahu. Aku semakin sadar bahwa sudah saatnya untuk melanjutkan
hidup—itu artinya mencari ’laki-laki’ yang baru. Aku menuntut ilmu di luar kota
sementara Fikri.... aku tidak tahu. Sekali lagi, aku tidak tahu kabarnya jadi
aku tidak tahu dimana ia berada. Aku juga tidak peduli karena aku bahagia
sekarang. Aku memiliki pacar, aku—katanya—populer, aku pintar, dan aku aktif
berorganisasi. Sungguh, masa SMA adalah masa jayaku. Kututup ingatan tentang
Fikri dengan suatu kenangan... kenangan yang tidak menyenangkan, yaitu ketika
ia mengejekku bersama Randy saat kelas 6 SD. Itulah Fikri yang aku tahu. Itulah
Fikri yang aku ingat. Itulah Fikri, cinta pertamaku.
Oleh karena itu, aku bingung, kenapa aku bisa
berada disituasi di mana aku berlari mengejar waktu dan takut Fikri akan marah
dipertemuan pertama kami selama jadian. Kakiku bergerak sendiri ketika memasuki
sebuah pintu toko, yang kuingat adalah toko baju. Dan kulihat Fikri sedang
memperhatikan jas hujan berwarna hijau dibalik etalase. Aku menatapnya datar
ketika ia melihat ke arahku dan siap marah padaku. Alih-alih menghampirinya aku
malah diam di tempat. Fikri menghampiriku dengan berdecak dan anehnya meminta handphoneku. Aku menatapnya heran dan
curiga tapi tetap kuserahkan handphoneku
padanya. Betapa terkejutnya aku ketika kuulurkan tanganku padanya dan ia
menarik lenganku. Ia memelukku dan mencium atas kepalaku. Ia membisikkan
sesuatu yang tidak bisa kutangkap. Jantungku berdebar-debar tapi dalam hati aku
bertanya-tanya, benarkah ini Fikri? Fikri yang aku sukai dari usiaku 5 tahun,
yang selama bertahun-tahun ia bahkan tidak tahu aku ada dan hanya bisa
mengejekku ketika melihatku? Seharusnya aku merasa senang tapi perasaan heran
dan tidak masuk akal lebih mendominasi sehingga aku tidak bisa menikmati
pelukan Fikri.
Setelah Fikri tampaknya puas memelukku, ia melepasku
dan bertumpu pada etalase sembari memainkan handphoneku.
Ia tersenyum, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, seolah-olah dia bahagia saat
berbincang denganku ketika aku justru malah menatapnya datar. Dan ketika itu...
Fikri menghilang.
Fikri hilang bagai debu yang diterbangkan oleh
angin. Aku tersentak dan mataku terbuka. Aku merasakan kepalaku pening luar
biasa dan kusadari ternyata aku menggigil. Aku tidak berselimut diri sementara
angin pagi berhembus bebas melalui jendela. Ku perhatikan jam menunjukkan pukul
6 pagi. Aku menghembuskan nafas berusaha menghilangkan rasa pening setelah Ibu
menyuruhku untuk berwudhu. Aku beranjak dari kasur dan merasakan lantai sedingin es. Basuhan air wudhu menggiringku ke sajadah untuk
shalat subuh. Ku sembah Tuhan Yang Maha Kuasa. Kuberikan salam sebagai penutup
ibadahku.
Sadar bahwa itu semua hanya bunga tidur, aku mensyujudkan diri,
menumpukkan keningku yang lebar ke atas sajadah lagi untuk bersyukur.
Dalam gumaman aku berbisik. Mimpi ini telah
menghadirkan seseorang yang diam-diam kuinginkan hadir lagi dalam bentuk apapun. Mimpi ini membuatku hangat sepanjang
hari. Mimpi ini—kuputuskan untuk—menjadi ingatan terakhir tentang dia yang
kutahu menyebalkan. Mimpiku kali ini adalah tentang Brahmantyo Fikri yang
kutahu darinya hanyalah dua hal: nama panjangnya dan ulang tahunnya yang
bertepatan pada malam natal. Mimpi ini tentang kasih tak sampai, tentang cinta
pertama yang entah kapan akan terlupakan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar