Senin, 08 September 2008

KISAH BELALANG TUA

kemarin tepatnya saat buka puasa, dengan gelas berisi teh hangat, saya di temani oleh berita di salah satu t.v swasta.
berita itu mengisahkan tentang koruptor yang divonis 20 tahun penjara berikut denda yang harus di bayar sebesar 500 juta. padahal kata orang tua saya, si koruptor itu mengambil uang rakyat bertriliunan rupiah.

anehnya, saat ia di sidang, atapun saat memasuki ruang sidang yang dipenuhi oleh para pers yang berebutan mengambil foto wajah tak berdosanya itu, ia tidak menutup wajahnya. tidak ada rasa malu sama sekali. padahal, penjahat yang mencuri, PSK, pembunuh, saat diringkus oleh pihak berwenang dan ada kamera yang mengabadikan peristiwa itu, mereka akan menunjukan tanda malu dengan menutup wajahnya dengan tangan atau dengan apapun untuk berusaha agar setidaknya tidak mempermalukan keluarga.

ia mendongak. si koruptor itu seperti ingin membuktikan bahwa menjadi tersangka dalam kasus korupsi pun harus menunjukan setidaknya jangan sampai kehilangan martabat sebagai mantan penguasa. jalang!

lagi-lagi, lagunya bang iwan mengispirasi saya terhadap si koruptor.

Belalang Tua

Belalang tua diujung daun warnanya kuning kecoklat-coklatan
Badannya bergoyang ditiup angin
Mulutnya masih saja mengunyah tak kenyang-kenyang
Sudut mata kananku tak sengaja melihat belalang tua yang rakus
Sambil menghisap dalam rokokku
Kutulis syair tentang hati yang khawatir
Sebab menyaksikan akhir dari kerakusan
Belalang tua yang tak kenyang-kenyang
Seperti sadar kuperhatikan, ia berhenti mengunyah
Kepalanya mendongak keatas
Matanya melotot melihatku tak senang
kakinya mencengkeram daun
Empat di depan dua di belakang bergerigi tajam
Sungutnya masih gagah menusuk langit berfungsi sebagai radar
Belalang tua masih saja melihat marah ke arahku
Aku menjadi grogi dibuatnya aku tak tahu apa yang dipikirkan
Tiba-tiba angin berhenti mendesir daunpun berhenti bergoyang
Walau hampir habis daun tak jadi patah
Belalang yang serakah berhenti mengunyah

Kisah belalang tua diujung daun yang hampir jatuh tetapi tak jatuh
Kisah belalang tua yang berhenti mengunyah
Sebab kubilang kamu serakah
Oo .. oo .. oo .. oo belalang tua diujung daun
Dengan tenang meninggalkan harta karun
Warnanya hijau kehitam-hitaman
Berserat berlendir bulat lonjong sebesar biji kapas
Angin yang berhenti mendesir
Digantikan hujan rintik-rintik
Aku yang menulis syair
Tentang hati yang khawatir
Tak tahu kapan kisah ini akan berakhir

Tidak ada komentar: