ini juga termasuk tugas komputer saya dan menyadarkan saya bahwa begitu primitifnya saya...
PERTANYAAN 2:
Tulis pengalaman Anda saat menkomputer (PC, ATM atau perangkat apa saja) untuk pertama kalinya!
JAWABAN :
Pengalaman saya saat mengkomputerkan pertama kali, saya merasa konyol, bodoh, dan terlihat autis! Hahaha! Bisa dibilang, saya mengenal komputer pertama kali saat saya berumur 9 tahun—saat itu saya kelas 4 SD dan saat itu tepat pula komputer mewarnai kehidupan saya dalam suka dan duka. Pelajaran komputer dimulai waktu itu kalau kita sudah menduduki bangku kelas 4 SD. Saya hanya bisa menemui komputer di sekolah karena di rumah keluarga saya tidak memilikinya. Saat itu komputer terbilang barang mahal sekali dan keluarga saya belum mampu untuk membelinya.
Karena pelajaran komputer hanya 1 kali dalam seminggu dan terhitung hanya 1 jam saja, saya menjadi gagap. Saya tidak bisa mempraktekannya lagi begitu pulang sekolah karena saya tidak mempunyai komputer. Pelajaran komputer yang sudah susah payah saya pelajari berakhir pada kelupaan karena saya kurang latihan. Saya bodoh sekali dalam pelajaran komputer. Saya sangat suka pelajaran saat mewarnai gambar di komputer tapi saya benci mouse karena sulit bagi saya untuk mengkontrol gerak mousenya. Saya juga benci keyboard apalagi kalau sudah duduk bersampingan dengan teman sekelas saya yang sudah pandai mengetik. Mengetik saya sangat lama! Saya menggunakan sebelas jari (telunjuk dengan telunjuk) dan mencari huruf-huruf di atas keyboard seperti mencari jarum di atas jerami—sulit sekali! Saya akhirnya beranggapan bahwa komputer adalah benda aneh yang tidak dapat saya mengerti (saya berusaha menyangkal saya yang aneh).
Ah, saat itu saya putuskan untuk membenci komputer! Tapi seiring dengan bertambahnya usia dan berkembangan otak saya, saya perlahan-lahan mulai mengerti bagaimana cara kerjanya. Puncak-puncaknya (yang saya sebut sendiri sebagi ahli) mengerti komputer, saat saya mulai duduk di bangku SMA.
Masa itu sudah modern—komputer dimana-mana dan masyarakat semakin pintar dalam menggunakannya, tapi tidak bagi saya. Friendster salah satu contoh kasus ke-gaptek-an saya.
Friendster yang kita tahu, sudah ada saat saya SD menjelang SMP. Hampir orang yang saya temui memiliki friendster, kecuali saya. Orang-orang seakan-akan meledek saya, “ ya ampyun! Hari gini ga punya friendster! Kasian amat! “. Tapi saya mempunyai alasan kenapa saya tidak memiliknya ; saya tidak suka, menurut saya itu sesuatu hal yang merepotkan, dan tidak penting—alasan sebenarnya—saya tidak mengerti bagaimana menggunakan friendster. Saya jujur, sangat gaptek! Tapi di SMA itu, saya di paksa untuk menggunakan fasilitas yang tersedia di komputer sebagai media yang terefektif saat ini dan akhirnya terpaksa memiliki friendster karena diomeli oleh teman-teman (thanks guys!).
Hasilnya, saat saya kuliah, saya (cukup) bangga—salah satunya dalam hal mengetik (dan memiliki friendster tentunya ^ ^). Kalau mengingat saat kelas 4 SD dulu, rasanya dulu saya seperti orang primitif. Pasalnya, kalau dulu saya mengetik dengan menggunakan 11 jari dan lambat luar biasa, saat ini saya dapat menggunakan 10 jari dengan cepat.
Saya sangat berterimakasih kepada SMA saya itu karena mewajibkan anak didiknya untuk bisa mengetik dengan 10 jari dan dengan kecepatan yang ditentukan. Saya juga berterimakasih kepada siapa saja yang sudah sabar menghadapi ke-gaptek-an saya dan menjadikan saya mengerti.
1 komentar:
patut disyukuri tuh, aku kenal komputer kelas 1smu, 1jam pelajaran/minggu.
karena dianggap ga pernah tau komputer, aku selalu kebagian intel 386 dengan monitor monokrom plus windows 3.1
paling bagus dikuasai anak lulusan smp sebelah smu itu, pake p3-667 plus winME
so sad..
Posting Komentar