Realitas memperlihatkan bahwa agama seakan-akan hanya menjadi symbol-simbol dalam kehidupan nyata saja. Gejala simbolisasi agama memang sangat semarak. Lihat saja fenomena mengantarkan jemaah Haji, pakaian Haji, Zikir akbar, ceramah akbar, dan kegiatan-kegiatan keagamaan yang mencerminkan kemewahan spiritual.
Di sisi lain, kekerasan hidup, maraknya maksiat, pamer kekayaan, kekuasaan dan pelecehan terhadap martabat dan harkat manusia yang dipertontonkan oleh TV, seakan tidak ada korelasi langsung dengan fenomena kemewahan spiritual. Kesemarakan spiritual, seolah sebuah oase yang tak bermakna, kecuali kepuasaan mental si pelaku sesaat.
Kalau melihat suatu peristiwa dari “kemiringan” peranan agama, sebagai contoh, kasus keagamaan di indonesia yang terlihat hanya seperti simbol dan bersifat musiman (menjelang bulan puasa misalnya, barulah spritualitas ditampilkan secara besara-besaran). Pola kepenganutan agama pasif dalam masyarakat kita telah melahirkan krisis peran agama dalam perspektif individual dan sosial.
Sejak proses sekularisasi, yang kemudian dimasuknya agama hanya sebagai sebuah departemen, maka agama kemudian kehilangan makna filosofisnya sebagai kekuatan sejarah dan peradaban. Kaum agamawan tidak lagi memiliki kekuatan di sektor pemerintahan sehingga semakin melemahkan peranannya. Kalau pun ada, tidak akan mampu menembus peran utama. Agama diberi ruang dan peran yang kecil.
Di sadari bahwa semakin majunya dunia ini akan ilmu dan teknologi, lahirlah krisis kemanusiaan global. Manusia modern mengalami apa yang disebut krisis eksistensi dirinya sebagai manusia. Di tengah hingar bingar kemajuan mesin teknologi, ia merasa asing dengan dirinya sendiri. Ia merasa kehilangan makna hidup, apa yang dicapai seolah-olah tak berarti apa-apa. Jadi dirinya terkeping-keping dalam seribu satu serpihan yang bersifat organis. Dengan kata lain, manusia menjadi lebih dungu ketimbang makhluk primitive manapun dalam hal menaklukkan dirinya. Manusia hidup dalam kehampaan nilai dan makna yang kemudian diperparah oleh kegalauan system nilai dan suasana kehidupan sosial yang pragmatis.
Jelas betapa krisis kedudukan agama dalam masyarakat industri modern. Salah satu penyebab utama merosotnya peran agama dalam peradaban industri modern adalah karena agama dianggap tidak memiliki kontribusi langsung bagi upaya mengejar kehidupan fisik-material.
Sehingga muncul pertanyaan, adakah peran agama untuk menjawab persoalan kemanusiaan global tersebut?
Agama hadir adalah untuk melakukan transfortasi sosial kultural. Harus dipahami pula bahwa satu sisi, agamalah yang diharapkan bisa memainkan peranan positif aktifnya dalam mengerem perilaku serakah, brutal, dan mengancam kelangsungan hidup serta mengabaikan sama sekali spiritualitas untuk diarahkan kepada kehidupan yang bertatanan ketuhanan, kemanusiaan dalam menuju dunia yang damai dan berperadaban. Disinilah letak peran penting pemimpin agama, untuk dapat menginterpretasi agama, dari berbagai sudut pandang, rasional, universal dan “membumi” sesuai dengan kebutuhan umat dan zaman, hingga agama tidaklah dipandang sebagai momok penghalang dari era modern ini. Karena perannya, maka kehidupan manusia mengalami kebahagiaan, kesejahteraan, ketenangan dan kemulian moral serta saling berdampingan satu sama lain. Artinya, agama memiliki peran integrasi dan kohesi social yang sejalan dengan dinamika perkembangan alam pikiran manusia modern.
Itulah peranan agama bagi dunia saat ini yakni mengembalikan pada kudrat dan fitranya, mengakui akan eksistensi Tuhan dengan segala aturannya, menjalin kebersamaan sesama umat dan membangun kemitraan dengan alam semesta.
* sebuah referensi yang patut dicamkan
5 komentar:
beurat gini uy bahasannya...
jgn terlalu kritis,
kalo gak kuat iman bisa jadi ateis lho. hahahaha !
insya allah g nus...
hehehehe...
thx nih dah berkunjung...
ehh, tambahan nus...
disamping mempertanyakan peranan agama, di suguhkan juga jawabannya kok...
semoga itu membuktikan bahwa gw tidak dan tidak akan ateis...
insya allah kuat iman..
harus berjuang dan rajin mendekatkan diri padaNYA yes... hehehe....
Syukuri kita diberi kenikmatan untuk secara status beragama islam, Tanyakan kenapa kita harus beraga islam jangan sampai hanya faktor keturunan. Kalau kita mau meluangkan waktu insyaalllah kita dapat jawabannya.
bagus!
saya suka pemikiran mu, mencoba hidup!
jangan sampai islam yang kita anut adalah islam geografis ya... (beragama karena keturunan)
beragama adalah hak manusia yang paling hakiki...
tidak ada satupun yang boleh memaksakan kehendak dalam memilih agama...
semua agama benar, tidak ada agama yang mengajarkan keburukan...
sebagai manusia juga kita seharusnya mencari kebenaran atau keyakinan dalam beragama sendiri..
Posting Komentar